Halaman Yang Ada Di Blog-ku

Tampilkan postingan dengan label Fan Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fan Fiction. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 September 2012

FF - Scar !! (Part 1)



Author  : Park In Ri
Tittle     : Scar !!
Casting : Song Ki Seob, Jung Hye Soo, Kim Ji Sook
Genre  : Romance, Pra New Brige (?)
Rating   : meski ada pengantin2 barunya. Jangan harap ada NC, karena author masih dibawah umur (baru sadar)
Note     :                
-          Jangan terlalu senang dulu baca tulisan saya yang satu ini (emang dulu pernah seneng)
-          Tidak banyak yang bisa diharapkan (emang dulu bisa diharapkan)
-          Harap sabar bacanya karena kasus masih berada nan jauh dimata
#############################################################






Scar



Cerita ini...
Bukan tentang luka yang kau berikan kepadaku..
Tetapi..
Tentang luka yang aku pilih
Untuk kita..
Maaf..






AUTHOR POV
Seorang namja berperawakan tinggi, berdiri tegak sambil mengetuk sebuah pintu rumah di tepi jalan seberang sungai Han. Memanggil-manggil nama yeojachingunya yang tak kunjung keluar.

“Hye!” serunya sambil terus mengetuk pintu

“Jakkaman(tunggu), Oppa!” kata sebuah suara yang akhirnya menyahut dari dalam diikuti dengan suara langkah kaki seseorang dari dalam rumah. Tak berapa lama kemudian munculah seorang yeoja berambut sepundak membuka pintu namun segera kaget melihat namjachingunya sendiri.

“Astaga! Oppa belum sempat ganti baju?” tanyanya langsung ketika matanya menangkap bahwa namjachingunya masih memakai seragam pilot salah satu maskapai penerbangan.

“Hhh... aku cepat-cepat kemari.. hh...” katanya baru merasa bahwa sejak tadi telah menahan nafas.

“Kenapa tidak ganti baju dulu?” kata yeoja itu dengan memasang muka polos.

Namun belum sampai Hye menarik nafas, namja didepannya itu sudah menjitak kepalanya.“Augh! Appo(sakit).” Katanya merengek.

“Kau yang memintaku untuk segera menemui mu. Menggunakan ancaman pula.” Katanya Ki Seop.

“Mian(maaf), aku kan rindu Oppa!” kata Hye, kemudian menarik lengan Ki Seop masuk kedalam ruang tamu.

“Lalu kau mau apa, chagii(kekasih)??” kata Ki Seop sambil mengelus pelan kepala Hye Soo. Rasa sebalnya memang hanya berbanding 0,00000001:10000000000 dengan rasa cintanya pada yeoja manis ini.

“Ayo kita kencan?” katanya sambil mengerjapkan mata.



KI SEOP POV
“Ige mwoya(apa ini)?” kataku sambil melihat benda aneh yang sudah menempel di tubuhku.

“Bagus kan Oppa?” kata Hye sambil menatapku penuh harap membuatku tidak tega mengatakan kalau baju yang dipilihnya ini sangat aneh menurutku.

“Ini namanya baju couple.” Katanya setelah aku berusaha tersenyum.

“Eh, kita mau kemana?” tanya ku. Aku khawatir kalau dia berencana mengelilingi Seoul dengan kostum seperti ini.

“Sudahlah! Ayo kita pergi.” Katanya sambil meraih tas ransel besar yang sejak tadi ada diatas sofa.

“Apa itu? Kenapa besar sekali.” Kataku menunjuk-nunjuk ransel yang sudah di pakainya, kuat sekali dia?

“Kajja(ayo)!” Hye langsung menarik tanganku dan setengah berlari. Dia sudah membawa ransel sebesar itu dan masih berlari pula?!

“Hye!! Kau tidak ingin aku membawa tasmu itu?” tanyaku setelah dia mengurangi  kecepatan berlarinya.

“Ini ringan kok!” katanya.

Apa? Ringan? Hei, lihatlah itu. ransel yang ada dipunggunya bahkan lebih besar dari tubuhnya. Lalu orang-orang pasti akan mengira aku membullying yeojachinguku sendiri, karena muka Hye sangat polos. Belum lagi, memangnya dia ingin mengajakku kemana sih sampai membawa ransel sebesar itu? Aigoo!! Bukan mau kawin lari kan? Pernikahan kami kan tinggal 5 hari lagi, kenapa harus kawin lari??

“Oppaaaaa!!!” teriaknya dibelakangku.

Rupanya dia sudah berhenti dari tadi, sedangkan aku terus berjalan sambi melamun, aku segera memutar langkah dan menghampirinya.

“Kau mau kemana?” tanyaku ketika aku sudah mulai mendekat.

“Oppa pegang ini sebentar ya?” pintanya sambil mengangsurkan ransel besar yang menjadi pertanyaanku itu dari tadi.

“Kau sudah lelah?” tanyaku. Tapi kemudian semua pertanyaanku tadi hilang karena ransel ini memang benar-benar tidak berat sama sekali. Hanya ukurannya saja yang besar.

Hye segera membuka ransel itu, dan berbagai macam kepala boneka muncul dari dalam tas itu. ia mengambil salah satu yang paling besar dan merangkulnya.

“Ja-jadi? Ini semua boneka?” tanyaku keheranan.

“Menurutmu apa?” tanyanya polos lalu masuk ke sebuah kios didepannya.

Aku keheranan dan segera melongokkan kepala melihat papan nama toko. Lalu terpampanglah besar-besar, sebesar-besarnya tulisan bertuliskan LAUNDRY. Apa?? Laundry??

Aku menatap yeojachinguku yang berjalan menuju salah satu ahjussi penjaga laundry itu dengan terheran-heran.

“Ahjussi(paman), bisa kah kau mencuci boneka-boneka ini?” tanyanya sambil menyodorkan boneka Teddy besar yang sejak tadi dipeluknya.

“Tentu saja!” kata ahjussi itu.

Lalu Hye segera berbalik arah kepadaku dan merogoh seluruh isi ransel yang ternyata adalah boneka dan meletakkannya di meja dihadapan ahjussi itu.

“Baiklah! Terimakasih ahjusii(paman)!!” katanya kemudian menarik lenganku pergi dari tempat itu.



HYE SOO POV
“Hahahahahaaaaaaa!!!!” kataku masih terus tertawa sambil memegang perutku yang sepertinya sudah melilit karena terlalu banyak tertawa.

“Chagi(kekasih), sudah lah! Hentikan!” kata Ki Seop Oppa dengan wajah manyun.

“Hhaaa,, baiklah-baiklah.. hahaha.. hhhh! Kenapa Oppa mengira hahaha... aku akan hhmm.. mengajak Oppa haha.. kawin lari?” tanyaku masih menahan tawa.

“Ah! Sudah lah!” katanya lalu mengikuti ku duduk di pinggir jembatan penyebrangan.

“Kenapa kau mau melaundry(?)boneka-boneka itu?” tanyanya lagi.

“Uh? Boneka-boneka itu kan sudah kotor, lagipula kalau nanti kita menikah... aku akan membawa semua boneka itu.” jawabku

“Apa?? Semua nya?” tanyanya menatapku dengan mata besar-besar.

“Memang kenapa?” tanyaku heran. Apa salah boneka-boneka itu? bukankah mereka semua itu lucu?

Ki Seop Oppa hanya diam saja tanpa membalas. Lalu tangannya mengelus kepalaku.

“Kapan Oppa cuti?” tanyaku kemudian.

“Besok sore adalah penerbangan terakhirku.” Katanya.

“Penerbangan terakhir?” tanyaku heran. Bukannya dia sangat menyukai pekerjaannya sebagai pilot? Lalu kenapa dia mau mengundurkan diri?

“Sebelum pernikahan kita.” Sambungnya. Aku hanya membalasnya dengan membentuk O pada mulut tanpa mengeluarkan suara.

Ia merengkuh pundakku dan mendekatkan pada tubuhnya membuatku bersandar pada pundaknya, kami berdua menatap jalanan kota seoul yang bertaburan cahaya dan mobil-mobil yang berjalan merayap dari atas jembatan penyebrangan.

Bagiku saat itu
Cinta adalah
Ketika pundak yang diberikannya padaku terasa sangat nyaman


KI SEOP POV
Aku merangkul pinggang Hye sambil melewati kerumunan orang-orang yang meneriakkan nama kami. Ada banyak orang datang pagi ini, teman-teman semasa sekolah juga rekan kerja tidak lupa para kerabat dari pihakku maupun Hye Soo. Dan Hye menyapa mereka semua.

Melihat wajahnya yang tersenyum sarat dengan kebahagiaan membuat buket bunga ditangannya terlihat kalah cantik.

Kami sudah berada di depan sebuah mobil yang sudah dihiasi dengan banyak pita dan bunga di bagian depannya. Aku membantu Hye masuk  kedalam mobil lalu memutari mobil menuju ke bagian kemudi. Aku memang sengaja ingin mengemudi sendiri tanpa menggunakan sopir.

“Annyeong(halo), yeoreobun(semuanya)!! Khamsahamnida(terimakasih)!” teriak Hye dari kap mobil yang terbuka disambut dengan tepuk tangan riuh orang-orang dari luar aula pernikahan.

Aku juga melambaikan tanganku pada orang-orang diluar dan segera menjalankan mobil perlahan.

“Annyeong! Bye!! Annyeong!!” Hye masih saja berteriak dari kap mobil hingga posisi badannya jadi berputar.

“Chagi, sudahlah!” kataku mencoba membujuknya untuk turun.

“Hehehe.. mian Oppa.” Katanya sambil mendudukkan badannya ke jok disampingku. Ulah Anaeku ini memang ada-ada saja, neomu kyeoyo.

“Hiks..hiks..” aku sedikit kaget mendengar isakan dari suaranya.

“Hey-hey.. kau kenapa? Karena kejadian kemarin? Sudah lah! Aku kan sudah ada disini.” Kataku berusaha menenangkan, sambil memegang kemudi aku berusaha meraih pipinya. Aigooo! Dia benar-benar menangis. Apakah dia benar-benar khawatir saat itu?

Flashback
“Aku pulang!” teriakku sambil mengganti sepatuku dengan sandal rumah.
“Ini dia anaknya. Calon istrimu mencarimu dari tadi.” Kata Eomma sambil berlalu setelah memastikan aku pulang.
“Hye? Lalu sekarang dimana dia?” tanyaku
“Di kamarmu.”

Tidak berfikir dua kali aku langsung menuju ke kamarku dan benar saja aku menemukannya sedang duduk di tepi ranjangku. Aku mendekatinya dan mengelus lembut kepalanya.
Ia segera mengangkat kepalanya dan memelukku.
“Oppa!! Huks, huks, huks...” katanya sambil menyeka air mata.
“Kau kenapa?” tanyaku sambil menepuk-nepuk pundaknya meskipun heran juga.
“Kenapa Oppa pulang telat? Aku khawatir terjadi sesuatu pada Oppa.” Katanya melepas pelukankku lalu menundukkan kepalanya.
“Aku kira hu..huks.. Oppa kecelakaan, hiks..seperti yang di huks-huks drama-drama itu, kan pernikahan kita tinggal 2 hari lagi.. huks, huks...” katanya menjelaskan panjang lebar.
“Aigoo! Ma’afkan Oppa, ne? Membuatmu khawatir, tadi Oppa mendapat banyak ucapan selamat makannya telat.” Kataku sambil meraih tubuhnya dan memeluknya, meskipun sambil menahan tawa. Yeojachinguku ini benar-benar polos!
End Flashback

“Oppa?” katanya lirih,

“Iya, ada apa?” tanyaku pelan, aku senang karena mungkin dia akan menjelaskan kenapa dia menangis.

“Oppa akan memperbolehkanku sering-sering berkunjung kerumah Eomma(ibu) kan?” katanya setelah menenangkan emosinya dan berhenti menangis.

“Eh?” aku kaget mendengar pertanyaannya, aku pun segera menepi kan mobilku. “Hahah...” aku tertawa pelan sambil melepas seatbelt ku.

“Kenapa Oppa tertawa?” tanyanya.

Aku menatap matanya lekat-lekat. “Kau pikir aku ini suami seperti apa? Tentu saja, kau boleh sering-sering berkunjung. Asal tidak melupakanku saja.” Kataku mencoba memberikan pengertian padanya.

“Jadi, sudah jangan menangis lagi, ne?” kataku sambil meraih kepalanya dan menghapus air matanya.

Bagi ku saat itu..
Cinta adalah..
Perasaan sakit ketika melihatnya menangis.


HYE SOO POV
Akhirnya kami berdua sampai di apartement baru kami. Hari masih siang ketika kami tiba, itu karena kami memilih apartemen di tengah kota yang tidak jauh adi rumah Eomma dan juga rumah keluarga Ki Seop Oppa.

Ah! Mulai sekarang aku harus memanggilnya Nampyeon(suami). Hihi.. tapi rasanya aneh. Atau Yeobo(suami)? Itu lebih aneh lagi! Eumm..

“Oppa! Kau mau aku memanggilmu apa? Nampyeon? Yeobo?” tanyaku padanya. Lalu beberapa saat kemudian aku merasa bodoh sekali menanyakan hal itu! ‘aish! Pabo!’

Ki Seop Oppa memegang kedua pundakku, dan menatapku penuh pengertian. Kemudian mencium ku perlahan.

“Terserah kau saja, chagi. Oppa juga sudah bagus.”

“Oo.. Geurae(baiklah).” Kataku lalu berlari kecil menuju meja nakas untuk mencopoti hiasan bunga-bunga di kepalaku yang membuat ku seperti buket bunga berjalan. Sebenarnya juga karena salah tingkah sih. Hehe..

“Hye-ya..” panggil Ki Seop Oppa ketika aku sedang sibuk melepaskan sebuah hiasan bunga besar.

“Ne?” jawabku agak mengacuhkan.

“Hye Soo-ya..” panggil Ki Seop Oppa lagi dengan nada yang sangat halus, membuat nyaman.

“Wae(kenapa) Oppa?” tanyaku sambil melepas sebuah jepit rambut.

“Kau mencintaiku kan?” tanyanya. Eh? Baiklah, aku hentikan aktifitasku dan menghadap ke arahnya.

“Tentu saja, Oppa.” Kataku.

“Aku juga mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu.” Katanya sambil memamerkan deretan gigi putihnya.

Meskipun heran, aku kembali memutar badanku menghadap meja nakas, mencoba menyisir rambutku dengan jari. Ya, aku sengaja tidak memakai Hairspray.

“Hye Soo-ya..” panggil Ki Seop Oppa lagi. Astaga! Ada apa sih? Aku berlari kecil kearahnya sambil mengangkat sedikit ujung gaunku.

“Wae geurae (ada apa), Oppa?” tanyaku sambil meletakkan tanganku pada kedua pipinya.

“Kita akan hidup bahagia selama-lamanya kan?” tanya nampyeonku lagi.

Aku memiringkan kepalaku, berfikir kenapa dia menanyakan hal seperti itu. Tapi akhirnya pertanyaan itu aku jawab juga. “Ya, tentu saja. Kita akan bahagia selama-lamanya.”

GREP!

Ki Seop Oppa memelukku dan menyandarkan kepalanya pada punggungku. Meski sedikit bingung, aku tetap saja mengelus punggungnya pelan. Lalu tiba-tiba, Ki Seop Oppa mengangkat pinggangku dan kami berputar-putar di kamar kami. Membuat gaunku mengembang seiring dengan setiap putarannya.



Beberapa minggu kemudian.
GREP!

Seseorang dengan aroma tubuh yang selalu membuatku nyaman memelukku dari belakang. Membuatku sedikit terkejut namun segera tergantikan dengan perasaan bahagia.

“Oppa, irreonaseoyo(sudah bangun)?” tanyaku sambil mengaduk segelas kopi.

“Eum. Aku kan tidak bisa lama-lama tanpa kamu, chagii.” Katanya sambil meletakkan kepala di pundakku manja.

“Ini kopi, Oppa.” Kataku sambil membalikkan badan dan memberikan segelas kopi padanya.

CHU~

Dia menciumku kilat dan tertawa ketika melihat reaksiku. “Hey! Itukan morning kiss dari ku!” katanya sambil menyeduh kopinya. “Ayo bersulang?” katanya sambil mendekatkan gelasnya padaku. Meraih gelas kopiku sendiri yang bertuliskan <3 anae.="anae." bertuliskan="bertuliskan" dan="dan" gelas="gelas" membenturkannya="membenturkannya" nampyeon="nampyeon" pada="pada" pasangannya="pasangannya" pelan="pelan" span="span">

Dan kami menyeduh kopi itu bersamaan.

Bagi kami saat itu..
Cinta adalah
Ketika kami saling memiliki, menerima dan memberi kenyamanan



Ki Seop POV

“Hari ini kita makan siang bersama ya?” tanyaku sambil menggigit roti yang baru disodorkan Hye.

“Em.. ayo! Di butik, Eomma tidak mengijinkanku melakukan pekerjaan berat. Aku hanya boleh mengawasi saja.” Katanya sambil mempoutedkan bibirnya.

“Kalau begitu kita makan di restoran kesukaanmu, ne?” tanyaku mencoba menarik perhatiannya.

“Jinca(benarkah)? Ne(ya)! Kajja(ayo), kita makan siang disana.” Katanya kembali bersemangat. “Eumm, ada apa kita makan siang disana? Tempat itu terlalu mahal untuk makan siang, Oppa.” Katanya sambil mengetuk-ketukan jari telunjuknya dibibir.

“Ada seseorang yang ingin aku kenalkan padamu.”


***

“Aish, ada apa dengan semua tulisan ini. Mereka semua membuatku pusing.” Kataku sambil mengacak-acak lagi rambutku yang sudah berantakan.

Kalian tau, setelah menikah Aboji menyuruhku untuk berhenti menjadi pilot dan mengurus bisnisnya. Dia mengancam tidak akan merestuiku, tapi semua orang tau dia menyayangi Hye lebih dari menyayangiku, mungkin. Aku menurutinya hanya karena ingin membahagiakan Aboji dan karena aku pikir pekerjaan ini hanya tinggal tanda tangan disini, disana, di kertas ini, di dokumen ini. Ternyata tidak mudah sama sekali!

TOK TOK TOK!

Seseorang mengetuk pintu ruanganku, aku melirik pintu yang masih tertutup itu dengan sebal. “Nuguseyo? Masuk saja.”

TOK TOK TOK!!

Pintu itu diketuk lagi. Aish! Kenapa tidak langsung masuk? Uh! Aku berjalan gontai ke arah pintu dan membuka daun pintu dalam satu hentakan.

“Annyeong(halo)!” sapa seorang laki-lagi sambil tersenyum membuat mata bulan sabitnya tenggelam akan pipinya yang chubby.

“Hyeong(brother)!” kataku sambil menatapnya. “Astaga! Aku kira siapa? Kenapa tidak menelfon ketika sampai dibandara? Aku ingin menjemputmu. Hahaha” kataku sambil menepuk pundaknya.

Dia malah mengangkat sebelah pundaknya lalu merentangkan tangannya memelukku. Aku pun tersenyum dan membalasnya. “Aigooo, adik kecilku.” Katanya sambil mengacak rambutku dalam pelukannya.

“Hyeong~ Geumanhae(cukup)! Istriku bisa marah nanti.” Kataku berusaha melepaskan pelukannya.

“Hahaha.. aku tau, aku tau!” katanya sambil melepas pelukannya. “Hei, sepertinya baru kemarin, kita mencuri buah dari tanaman milik tetangga, tapi sekarang kau sudah menikah.” Katanya menepuk bahuku berkali-kali

“Hyeong, kau juga harus segera menikah!” kataku sambil menyeret kopernya ke samping sofa diruang kerjaku.

“Kau tau bukan, masih banyak yang ingin aku capai.” katanya sambil duduk di sofa tengah. Begitulah hyeong-ku, Ji Sook hyeong. Dia adalah sepupu dan juga temanku sejak kecil. Sangat gigih mencapai yang dia impikan, tapi sangat santai jika sudah berhubungan dengan perasaan. Hahaha!

“Oh iya, perkenalkan aku dengan istrimu itu! Yang kau bilang sangat kau cintai.” Katanya lagi.

“Ah! Baiklah! Kebetulan aku akan makan siang dengannya. Hyeong, kau harus ikut! Nanti kuperkenalkan.” Kataku ingat janji ku pada Hye.

“Kebetulan, aku sudah sangaat lapar. Makanan di pesawat tidak enak! Kajja!”

**

“Hyeong, itu dia Anae-ku!” kataku sambil mempercepat langkah kaki ketika sudah sampai di restaurant dan melihat Hye sudah menunggu.

“Chagi!” teriakku ketika sudah beberapa meja di depannya. Dia mengangkat wajahnya dan tersenyum menatapku, tapi begitu melihat Ji Sook di sampingku dia langsung berdiri.

“Hyeong, ini Hye Soo, Song Hye Soo, Anae(istr)-ku!” kataku sambil menambahkan marga-ku pada namanya. Biasanya Hye selalu tersipu ketika aku mengatakannya.

“Chagii, ini Ji Sook Hyeong. Hyeong-ku yang nakal yang sering kuceritakan. Dia baru tiba dari Barcelona tadi.” Mereka berdua saling tersenyum dan berjabat tangan.


To be continued



Preview of next part:
Tiba-tiba seperti ada benda berat yang memukul dada ku dan mengangkatnya keatas. Aku sulit bernafas, dan tubuhku menjadi dingin seketika. Aku meraih apapun yang ada dijangkauanku dan menyandarkan kepalaku disana seiring dengan pandanganku yang memudar.
***
 “Kau ingin kembali padanya.” Mulutku tiba-tiba mengatakannya dengan nada dingin. Aku bahkan tidak menyesalinya sekarang.
“Apa? Apa maksud Oppa?” tanyanya berjalan kearahku
“Tidak kah kau tau? Kau tidak menghargaiku sebagai Nampyeon-mu!” mendadak, seperti ada banyak sekali yang ingin aku katakan padanya.
“Oppa..” katanya lirih
“Aku tau, kau wanita baik. Tapi kau harusnya tau batasannya. Kau harusnya mengerti dengan baik, cara menjaga martabat seorang istri.”

Rabu, 28 Maret 2012

FF - Late Last - Part2/END



Author    : HHSPIR
Tittle    : Late Last
Casting    : Park In Ri, Lee Jin Ki, and other comeo
Genre    : Romance, Horror (?),
Rating    : PG-15 -TAPI mengandung bahasa yang sedikit frontal-
Note    :
-    Judulnya sengaja dibuat Late Last bukan karena Author ini ndak bisa bahasa inggris atau salah ketik wkwkwkwkwk (alibi)
-    Semoga kena deh ceritanya, soalnya yang jadi cast-nya bukan Bias siii :P Kalo ndak kena, dikena-kenain ya Readers yang baikkk....
-    Song Suggest; pokoknya lagu-lagu yang galau ajaaaaa
-    FF perayaan kembalinya SHINee dan berakhirnya UTS
*******************************************************************************************
Late Last

Tsk,
Dulu aku pernah berkata pada teman-temanku
Jatuh cinta pada karakter manga yang bermata besar dan berwajah sempurna itu perbuatan bodoh
Karena mereka tidak benar-benar ada
Tapi sekarang,
Aku membusuk dalam kalimatku sendiri
Aku salah
Aku salah waktu itu
Jatuh cinta pada sesuatu yang tidak ada itu..
Lebih baik..
Ah, tidak..
hanya akan lebih baik, jika pada kasus ku ini..



Dua minggu kemudian
.
.
.
“Kau sungguh beruntung, In Ri-aa!” kata yeoja manis yang sepertinya langsung duduk di tepi ranjangku.

Aku hanya membalasnya sambil tersenyum. Membayangkan angan-angan yang akan segera menjadi nyata.

“Kau tau, orang lain butuh waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan donor mata. Tapi kau?!” katanya lagi.
Ya, tadi pagi aku mendapatkan bahwa donor mata untukku sudah siap. Aku akan segera bisa melihat lagi, lusa aku sudah akan melakukan opreasi itu. Aku akan kembali melihat, merengkuh duniaku yang penuh warna lagi, dan yang terpenting aku akan segera menemuinya. Eh? Menemuinya? ASTAGAA!!!!! Aku lupa sesuatu.

“Eemhhh.. Jung Soo-aa.. mian. Tapi bisakan kau mengantarku ke taman rumah sakit?” tanyaku.

“Eh? Untuk apa?” dia malah membalasku dengan pertanyaan.
.
Aku hanya menyeringai tersenyum.

“Ahh!! Arra. Kau mau menemui Jinki? Benarkan? Ahh! Kebetulah aku sangat penasaran dengannya.” Katanya bertubi-tubi sambil mengguncang bahuku. “Ayo kita berangkat.” Katanya sambil menuntunku turun dari ranjang, mengambil tongkatku dan menuntunku dengan sabar.

+++

“Huuuuftt.” Terdengar lenguhan bosan dari Jung Soo.

Kami sudah berada disini sejak sekitar 30 menit yang lalu, tapi Jinki tidak juga datang.

“Apakah masih lama? Aku harus pergi kesuatu tempat.” Katanya

“Benarkah? Mmm.. kalau begitu pergilah dulu.” Kataku menoleh kan kepala. Semoga saja aku tidka salah menoleh.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya.

“Tidak. Jinki pasti akan segera datang.” Kataku yakin.

“Hhhhmm. Kau tau In Ri-aa? Kau terlalu percaya padanya.” Katanya menakut-nakuti ku. Ck, memang dasar (?) chingu ku yang satu ini. “Baiklah! Aku pergi! Anneyong!” katanya.

Aku menggosok-gosok kedua lututku dengan tangan, kembali menunggu. Ah, iya! Sepertinya sekarang aku sudah bisa melupakan Minho. Hah! Kalau ada yang bertanya siapa Minho. Aku akan berkata ‘dia mantan pacarku’ dengan tegas. Kalau ada yang bertanya bagaimana perasaanku sekarang. Aku akan menjawab ‘’bahagia’.

Mmmhh.. bagaimana bisa aku cepat sekali melupakannya ya? Apa aku menyukai namja lain? Apakah itu.. mm Jinki-ssi? Molla. Menurut pendapat readers bagaimana? >plak!<

Hujan tiba-tiba turun sedikit demi sedikit. Tapi bukan hujan lebat yang turun kali ini, tapi hujan gerimis. Aku menengadahkan tanganku pada udara yang kosong mencoba meraih air hujan. Oh iya, sebelum aku buta. Aku tidak terlalu menyukai hujan, tapi ketika nanti aku sudah tidak buta, aku akan tetap menyukai hujan. Karena, hujan yang membuatku bertemu dengan.. mmmm...

“Aku tau kau suka hujan In Ri-aa.. tapi tidak berarti aku mau hujan-hujan kan?” tiba-tiba suara seseorang yang sedari tadi aku tunggu terdengar sangat dekat ditelingaku.


Aku segera menoleh ke arah suara itu. Mencoba menatap matanya dengan mataku yang buta.

“Kajja kita pergi.” Katanya menggandeng tanganku.

“Ang gha!!” kataku sambil menggeleng cepat. “Jebal yo Jinki-aa.” Kataku

“Dasar anak bandel.” Katanya sambil mengusap pucuk kepalaku.

“Lusa, aku akan operasi mata.” Kataku.

“Benarkah?” tanyanya pelan. Aku kira dia akan mengatakannya dengan perasaan senang. Kenapa nada bicaranya begitu?

“Gureom. Kenapa? Kau tidak siap aku melihat wajahmu oeh? Ckckck,, aku harus mempertampan wajahmu setelah ini.” Kataku menggodanya.

“Yak!! Kau... tunggulah! Kau pasti akan terpesona padaku nanti!” katanya sambil mencubit pipiku dan mengarahkannya ke kanan dan kiri.

“Bisakah kau melakukan sesuatu untukku?” tanyanya dengan nada bicara yang berubah serius.

“Apa?” tanyaku yang entah kenapa mengikuti nada bicaranya.
.
.

(dirahasiakn hingga FF ini tamat)
.
.
“Baiklah.” Kataku mengiyakan permintaannya

“Baiklah! Ayo aku antar kau ke kamar lagi.” Katanya sambil menggandengku. Waktu itu, aku hanya menurutinya saja.


+++


Kami sampai di depan kamar rawat ku beberapa saat kemudian.

“Baiklah! Kau istirahat ya?” kataku

“Kau yang seharusnya istirahat! Kau kan akan segera operasi.” Katanya memencet ujun hidungku.

“Arrasooo.” Kataku membuat bentuk ‘O’ yang besar di mulutku.

“Baiklah, aku pergi.” Katanya

“Oppa!!” aku meneriakinya.

“Eh? Sejak kapan kau memanggilku Oppa?” tanyanya.

“Kapan kita bertemu lagi?” tanyaku.

“Mmm.. segera. Makanya cepat operasi dan segera sembuh, ne?” katanya.

“Baiklah! Anneyong, Oppa!! Saranghaeyo!!” kataku dengan nada usil padanya. Hahaha!! Dia pasti salting sekarang.

“Na do” katanya yang aku balas juluran lidahku dan segera menghilang dari balik pintu.

+++


Hari pertama setelah operasi


Kenapa kau tidak datang?

Aku sudah menunggumu disini.

Bahkan hujan juga ikut menunggumu

Aku sudah lebih baik sekarang

Perban di mataku ini akan segera dibuka dan aku akan segera bisa melihat warna lagi

Aku sudah siap oleh terpesona dengan mata dan senyummu

Tapi kenapa kau tidak datang?

Bukannkah kau janji kita akan bertemu?

.
.
.
.

Setelah aku bisa melihat dunia lagi


Kapan kau akan menemuiku?

Ini sudah kesekian kalinya aku menunggu

Dan sudah kesekian kalinya juga kau tidak datang

Kau kemana?

Apa kau sakit?

Kau tau, aku sangat-sangat merutuki diriku sendiri yang tidak pernah bertanya tentangmu..

Kau sakit apa?

Rumahmu dimana?

Selama ini aku terlalu banyak memikirkan diriku sendiri

Ma’afkan aku..

Tolong temui aku sehingga aku bisa menerima hukumanku

Besok aku akan keluar dari rumah sakit

Oh, iya. Aku akan segera menepati permintaan mu..

Semoga setelah itu, kau akan menemuiku


+++


“Terima kasih, In Ri-yang. Kau benar-benar gadis yang baik. Pantas Jinki memintamu.” Kata seorang wanita paruh baya berwajah ramah itu sambil menepuk pelan pundakku.

“Baiklah, Omonim. Saya pergi dulu.” Kataku sambil keluar dari bagunan luas itu. bangunan yang cukup luas untuk dihuni 30 anak-anak dengan lapangan bermain disisi depannya. Membuat setiap orang yang melewatinya bisa melihat gelak tawa anak-anak yang akhirnya bisa merasakan secuil keberuntungan setelah terpisah dari orang tuanya. Entah itu hilang, dibuang, atau terpisah selama-lamanya.


Aku kembali menyusuri jalanan lengang yang dipenuhi dengan fatamorgana dimataku. Musim semi telah berakhir, berganti musim panas yang begitu menyengat tak ada lagi hujan, tak ada juga dirimu. Tapi, jika hujan akan muncul pada musim semi mendatang, apakah kau juga akan muncul saat itu?

“Jinki?” tanya wanita paruh baya itu

“Ne. Aku kemari untuk memenuhi permintaannya sekaligus untuk mencari tahu tentangnya.” Kataku.

“Dia,,,”

“Ne?”

“Dia kecelakaan satu bulan yang lalu, dan beberapa minggu yang lalu dia meninggal.” Katanya menusukku.

“Apa? Lalu.. Laluuu.. Jinkkii..” kata-kataku tersengal.

“Jinki adalah donatur sukarela di panti kami ini.” Kata wanita paruh baya itu.

“Om..monim tau tempat tinggal Jin..ki?” tanyaku tersengal lagi.

“Sayangnya kami tidak pernah tau. Dia hanya akan selalu datang setiap minggu dan menemani anak-anak bermain.”



Aku kembali meneruskan langkahku setelah mengambil selembar daun yang jatuh. Terik matahari kali ini sangatlah menyengat. Fatamorgana. Bolehkah aku berharap fatamorgana itu bisa membentuk bayangan mu? Aku ingin melihatmu. Walau hanya sebuah fatamorgana. Aku ingin melihat dan merengkuhmu, walaupun ketika sudah dekat kau akan segera menghilang.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku tersadar dari lamunan panjangku ketika seorang waitters mengantarkan gelas cappucino keduaku.

Musim semi sudah datang lagi. Bau hujan ada dimana-mana, bahkan sekarang masih turun hujan. Hujan yang menemaniku mengingat semua kenangan tentang mu. Benar. Musin semi dan hujan mungkin akan kembali setiap tahunnya. Tapi kau tidak. Kau tidak akan menampakkan dirimu dihadapanku. Tak apa. Sepertinya waktu kita memang hanya sesingkat itu. Tak apa. Bukankah waktu yang singkat tetapi berharga itu sesuatu yang sangat sulit kau dapat kan? Aku bahagia pernah mendapatkannya. Denganmu.



THE END~~~

Huuaaaaaaa!!!!!! FF abal-abal ini ternyata bisa selesai. Saya kira ini FF bakalan jadi tak berujung.. wkwkwk... seperti yang sudah pernah saya sebutkan, kalo FF ini dibuat sebagai perayaan Comeback-nya SHINee meskipun agak telat (Cheosusemnida *BOW*) dan berakhirnya UTS saya, jadi yaaa.. gimana yaa,, maklumin aja ya, kalo sedikit (banyak kaliii) agak (sangat kaliiii) ndak kena, Cuma dibuat dalam waktu + 3 jam loooo. Bagaimana kah? Otte??? Setujukan, sama negosiasi saya??


DEEP BOW
*criinnngg!* ngilang bareng Taemin

Late Last -Part1-

Author    : HHSPIR
Tittle    : Late Last
Casting    : Park In Ri, Lee Jin Ki, Choi Min Ho
Genre    : Sad, Romance, Horror (?)
Rating    : PG-15 -TAPI mengandung bahasa yang sedikit frontal-
Note    :
-    Judulnya sengaja dibuat Late Last bukan karena Author ini ndak bisa bahasa inggris atau salah ketik wkwkwkwkwk (alibi)
-    FF nekat. Karena belum tau bakalan gimana kelanjutannya tapi sudah di aplut
-    Semoga kena deh ceritanya. Kalo ndak kena, dikena-kenain ya Readers yang baikkk....
-    Song Suggest; pokoknya lagu-lagu yang galu ajaaaaa
**********************************************************************************
Late Last
Kadang keterlambatan memang menyakitkan
Tapi tetap saja akan ada kebahagian ketika penantian berakhir
Tapi bagaimana kalau keterlambatan dan penantian itu bahkan tidak pernah ada.......
Lalu selama ini yang terlambat siapa?
Lalu selama ini aku menunggu siapa?



In Ri POV
“Aku merindukanmu” bisikku pada rintik-rintik air hujan yang jatuh perlahan.

Rintik air hujan itu seakan berusaha menembus dinding cafe disampingku dan menyanmpaikan titipanmu untukku. Dasar bodoh! Aku masih saja berfikir begitu.
Aku sedang menyesap secangkir cappucino hangat sambil melihat tenggelamnya cahaya matahari sore yang terbungkus oleh selaput mendung

Melihat bangku disampingku yang kosong dengan harap seseorang duduk disana menemaniku nanti. Setahun yang lalu, juga pada saat musim semi. Juga ketika bunga-bunga bermekaran dan tercium aroma hujan dimana-mana.

Kini aku benar-benar merindukannya
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Tangaku meraba ke roda besi dingin yang ada disisi kiri dan kananku lalu memutarnya. Membuatku keluar dari ruangan berbau obat menyengat yang sama sekali tak kusukai. Semilir angin dan aroma khas yang sangat aku rindukan akhirnya datang. Hujan akan segera tiba, aku segera memperkuat putaranku pada roda besi itu. menyusuri koridor yang seterang apapun menurut orang akan tetap gelap dimataku. Gelap, gelap, dan gelap untuk gadis buta sepertiku.

Terus ku arahkan kursi rodaku hingga benar-benar berbenturan dengan beranda pembatas lantai dua.

“Huh, sayang kamar rawatku ada dilantai dua” kataku berbisik sendirian.

Aku merendahkan tanganku mencari-cari dimana rintik-rintik air hujan itu turun. Bunyi air hujan sudah bergemericik, tapi aku tetap tidak bisa menyentuhkan tanganku pada air hujan yang sudah berjatuhan entah dimana.

“Andai saja aku tidak kehilangan penglihatanku dan jadi buta begini” keluhku muncul lagi setelah beberapa hari menyimpangnya dalam-dalam bersama setiap umpatan-umpatan yang mengingatkanku pada kecelakaan yang aku alamai beberapa minggu lalu.

Kecelakaan yang membuat kehilangan penglihatan dan merenggut setiap warna kehidupanku, juga cedera sementra pada kakiku membuatku benar-benar terpuruk pada hari-hari awal. Namun berhasil dibujuk dengan rayuan Umma dan Appa yang berkata secepatnya akan mendapatkan donor mata dan aku akan segera sembuh. Juga janjit namjachinguku yang akan segera puland dari US untuk menemaniku disini.

Aku masih terus seibuk merutuki nasibku hingga akhirnya tersara bahwa bunyi gemericik air hujan semakin jarang dan terdengan perlahan.

“Hujan akan segera berhenti” kata ku sambil terus mencoba mengarahkan tanganku agar dapat menyentuk air hujan, mulai bangkit dari kursi roda.

“Agak kesini” kata seorang sambil mengarahkan tanganku maju sedikit kekanan dengan sentuhan tangannya yang dingin namun lembut.

“Aku muali merasakan satu per satu tetes air hujan membasahi tanganku disusul dengan berpuluh-puluh tetep berikutnya. Seperti berpuluh-puluh jarum tumoul yang menerjang namun tak memberikan luka, dan jika aku boleh berharap hujan itu seperti langit yang ikut menangis karena penderitaanku.

“Terima kasih” kataku sambil tersenyum kesembarang arah karena tidak tahu dimana letak pasti orang tadi berdiri.

“Sama-sama” terdengat orang ini mengatakannya sambil tersenyum.

Aku semakin khidmat menikmati setiap tetes air yang membasahi tanganku, membuat suasana henign antara kami –aku dan orang yang entah kenapa aku yakin masih berasa disampingku.

“Lebih enak jika kau menikmatinya dilantai bawah” katanya dengan penuh kehalusan.

“Benarkah?” kataku penasaran.

“Tentu. Kajja! Aku antar kau” katanya.

“Eh?” terlambat, dia sudah mendorong kursi rodaku melewati koridor menuju tangga untuk pengguna kursi roda.

“Kita dimana sekarang?” kataku penasaran setelah kursi rodaku terhenti.

“Dilantai bawah, di tepi teman tengah rumah sakit” kata yang seperti mengambil posisi duduk disampingku.

“Dirumah sakit ini ada taman juga?” tanyaku.

Namun tanyaku belum sempat terjawab karena dia langsung meraih tanganku dan menadahkannya diudara. Merasakan kembali tetesam air mata langit hingga tanpa kusadari terbentuk senyum di bibirku.

“Boleh aku pinjam tanganmu sebentar?” tanyanya sedikit menyela kesenanganku dengan air hujan (?)

“Eh? Hmm..” kataku berdengung.

Kurasakan lagi sentuhannya yang dingin dan lembut meraih tanganku mengarahkannya kedepan namun sedikit menjulur kebawah. Membuat tanganku menyentuh sesuatu. Dia menggerakkan tanganku untuk emmetik sesuatu lalu menaruhnya dalam pangkuanku.

“Apa ini?” tanyaku.

“Bunga mawar” dia terdengar mengucapkannya dengan tersenyum lagi.

Aku mengarahkan bunga mawar itu dan menyentuh setiap kelopaknya yang basah oleh air hujan tadi.

“Terimakasih banyak... nggg” aku menggantungkan kalimatku tersadar kalau kami bahkan belum berkenalan.

“Hihihihiii..” Dia malah tertawa geli, membuat seluruh wajahku terasa panas. “Jinki, Lee Jinki imnida.” Katanya.

Andai saja aku bisa melihat sekarang, dia pasti sedang mengulurkan tangannya padaku. Andai saja aku bisa melihat, aku pasti bisa melihat senyumnya, senyum yang seharusnya terlihat hangat dan menenangkan. Andai saja!

Lagi-lagi untaian khayalan dan perandai-andaian datang menggelayutiku.

“Kau?” katanya memutuskan khayalanku.

“Eh? Mmm... Park In Ri” kataku menyodorkan tangan ketempat yang aku kira paling dekat dengannya.  Tapi sepertinya yang aku pikirkan salah, karena aku dengar dia melangkah sebentar.

“Bangapseumnida.” Katanya terdengar seperti mendekatkan wajahnya padaku.

Orang ini, orang ini sebenarnya wajahnya seperti apa?
Orang yang mendekatkanku pada satu-satunya hal yang membuatku bisa tersenyum dalam gelap seperti sekarang. Mengetahui langit ikut menangis dalam setiap gelapku.

“Mmm... Jinki-ssi juga pasien disini?” tanyaku mengingat ini bukan jam besuk.

“Bisa dibilang begitu” katanya lalu menyentuh punggunku.

Biasanya aku akan segera menangkis sentuhan-sentuhan seperti itu. Tapi sentuhannya seakan mengunciku, terasa ringan dan sangat nyaman.

“Kau suka hujan?” tanyanya yang mungkin sekarang sedang melihatku yang asyik menikmati tetesan air hujan yang jatuh ditanganku lagi.

“Iya, sangat!” kataku singkat tak mau kehilangan moment dengan airmata sang langit.

“Wae?” tanyanya lagi

“Hanya suka saja. Tidak butuh suatu alasan untuk menyukai kan?”

Dia tidak menjawab. Benar-benar hening yang menyelimuti kami. Hingga aku mulai merasakan tetesan air hujan makin jarang menyentuh tanganku yang masih setia menunggu tetesan selanjutnya. Hingga akhirnya tetesan itu benar-benar menghilang.

“Hhhhh...” kataku melenguh kecewa. “Hujannya sudah berhenti”

“Sudahlah, besok pasti turun lagi” katanya yang ternyata masih disampignku. Aku kira dia tidak akan letah menemaniku yang buta dan juga duduk di kursi roda ini.

“Mm.. iya, mungkin.” Kataku sedikit menggantung.

“Pasti turun lagi” katanya meyakinkanku lalu menepuk-nepuk pundakku halus.

Entah kenapa aku langsung mempercayai kata-katanya. Padahal ini sudah akhir musim semi, dan cuaca sudah mulai panas.

“Sekarang, ayo kembali” katanya mengakhiri keheningan diantara kami.

“Eh?” tanyaku sedikit kaget karena tiba-tiga tertarik dari lamunanku.

“Ayooo.. aku antar ke kamarmu” katanya.

Aku merasakan dia yang ada dibelakangku menunduk meraih penahan kursi roda yang ada di sisi depan. Membuat aku bisa mencium bau tubuhnya. Barang sekelebat, baunya harum. Perbaduan antara wangi maskulin dan aromaterapi.

“Kajja! Eh? Kamarmu dimana?” katanya polos sambil mendorong kursi rodaku perlahan melewati koridor sepi yang menurutku gelap. Namun merasakan ada seseorang yang memberikan kehadirannya untukku, membuatku lebih dari sekedar rasa nyaman.
******************************************

“Yakk!! Oppa, apa maksudmu?”

“Sudah, Inri. Cukup. Kita se-le-sai!” katanya sambil menekankan kata terakhir.

“Wae? Hikks..ughh,, hiikss. Wae? Apa salahku pada Oppa?” sentakku yang sudah tidak bisa lagi membendung air mata.

“Wae?!?! Kau masih bertanya? Kau sudah tidak berguna lagi In Ri. Sudah cukup? Puas? Jangan buat aku mengatakan sesuatu yang lebih kasar dari itu.”

Aku hanya membeku mendengar ucapannya, berusaha menahan rasa sakit yang berkecamuk.

Ada apa ini? Tiba-tiba Minho Oppa –namjachinguku—jauh-jauh menelepon dari US. Aku kria dia akan mengatakan kalau dia akan segera pulang, tapi malah pernyataan seperti ini yang aku dapat darinya. Dia meminta putus dari ku. Kenapa? Bukankah baru beberapa hari yang lalu dia berkata akan segera pulang ke Seoul dan menemaniku? Ada apa dengannya? Kenapa dia memintaku melepaskannya?

“Oppa? Apa Oppa menyukia yeoja lain?” tanyaku sambil meremas-reman selimutku. Berusaha menahan rasa sakit.

“Ck! Kau malah mencurigaiku? Yakk?! Park In Ri, lebih baik kau berkaca pada dirimu sendiri” katanya.

Aku termenung. Apa maksudnya? Apa dia mau bilang kalau dia memutuskanku akrena keadaanku yang buta sekarang. Kemana Choi Min Ho yang dulu hangat padaku, selalu mendampingiku susah ataupun senang. Min Ho yang menyesap lembut punggung tanganku dan tertidur dipangkuanku.

Ah! Benar! Sekarang, aku adalah seorang gadis buta yang tidak berguna. Ck! Dasar bodoh! Aku benar-benar tidak tau diri. Mana pantas seorang gadis buta bersama dengan Choi Min Ho, seorang pelajar pertukaran sekolah tinggi terkenal. Aku bukan siapa-siapa sekarang, tak lebih dari sekedar sampah.

“Kita selesai In Ri. Kalau pun suatu hari kita bertemeu, meski aku yakin dengan keadaanmu yang seperti itu tida akan bisa melihatku, anggao kita tidak pernah bertemu.” Ia benar-benar mengatakannya dengan datar dan menusuk.

“Annyeong.”

PIP..

Sambungan telepon terputus bahkan ketika aku masih belum sadar sepenuhnya dari apa yang beru saja dikatakannya.
===========================================================================

Author POV
In Ri kalap.

Setelah termenung beberapa saat, ketika seorang suster memasuki kamarnya dan meminta ijinnya melakukan pemeriksaan, In Ri meluapkan semuanya. Mulai membanting handphone, menarik lalu membuang selimut asal.

“Nona, apa yang anda lakukan?” tanya suster itu.

“PRAAAAAANNNGGGGG!!” (ini gelas pecah saudara-saudara) In Ri turuss dari ranjangnya dan menyapu bersih seluruh gelas kaca dimeja nakans dekat ranjang. Membuatnya terhempas kelantai dan pecah berkeping-keping.

“Arghhhh!!!” In Ri mulai mencoba berjalan, namun tentu saja dia jatuh karena cedera kecelakaan itu. pecahan kaca membuat permukaan lutut dan kakinya tertancap, membuat darah berceceran. Namun sungguh dia menjerit bukan karena itu. Bukan, semua itu semata-mata hanya alasan.

“Nona, Astaga!!” sang suster yang melihat itu semua memekik. Namun siapa peduli? In Ri sudah menutup telinganya.

Dia masih berusaha bangkit namun terhalang oleh selang infus yang masih menancap di nadinya. Dengan kasar In Ri menarik jarum itu dan membuangnya.

“Nona.. Nona tidak boleh melakukannya” kata suster yang masih berusaha menenangkan In Ri namun ketika sister itu berhasil menyentuh sedikit kulitnya, In Ri mulai memekik lagi.

“Pergi! Pergi!! Jangan sentuh aku!” katanya melempar apapun yagn ada didekatnya, tak terkecuali pecahan kaca yang membuat suster itu panik lalu pergi mencari pertolongan.

In Ri terdiam dalam tangisnya. Menangis sekeras-kerasya. Selama mata itu masih bisa digunakan untuk menangis. Ya, satu-satunya hal yang bisa dilakukan kedua mata coklat muda itu sekarang.
-----------------------------------------------------------------------------------------


In Ri terus menangis bahkan sampai tidka mengeluarkan air mata. Membuat rasa sakit yang menganga terasa timbul tenggelam.

Ia menutup dirinya dari dunia luar bahkan sampai langkah-langkah ringan yang menghampirinya tak bisa membuatnya yang duduk membelakangi pintu merasakan kehadiran sesosok itu.

In Ri terus menangis bahkan ketika langkah-langkah itu semakin mendekat.

Tuukk.. (ceritanya ini suara langkah ya chingu ^^)
Tukk,,
Tuk..

“Uljimayo..”
Perkataan itu diucapkan dengan cara yang sangat menyejukkan oleh orang yang tangannya sedang memeluk In Ri dari belakang.

“Uljimayo..” katanya lagi.

In Ri terdiam sesaat, menyimpan dalam-dalam aroma maskulin dan aromaterapi dari tubuh orang itu. Namun entah mengapa luka yang sesaat tadi tenggelam kini timbul lagi.

“Pergi!!” hentak In Ri seketika

“...”

“Pergi kubilang!!”

“...” tapi orang itu tak bergeming

“PERGI!!!!” kata In Ri mulai berusaha melepaskan diri.

Namun pelukannya malah semakin erat membawa tubuh In Ri terhanyut akan ketenangan hati sang empunya pelukan. Namun lukanya yang terlanjur timbul karena terjamah pelukan yang sama dengan pelukan mantan-namjachingu-nya masih mencoba merangsek keluar.

“...” Orang yang masih bergeming itu malah membenamkan kepalanya dalam pundak In Ri. Seakan berusaha merenggut semua penderitaan In Ri, menelannya untuk dirinya sendiri dan takkan membiarkan gadis ini merasakannya barang setetespun.

“Pergi..” kata In Ri mulai lirih

“Uljima..” katanya berbisik pada In Ri

“Gomapta, Jinki-ssi.”
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Dua minggu kemudian...



To Be Continued.. ^^
Sengaja mau buat reader marah, wkwkwkk!!! Doa’kan semoga menemukan inspirasi yang tepat untuk FF yang satu ini.

Terimakasih bagi yang sudah baca..

Other Information

Ikuti Terus Blog ini ya...
Oiya,, bagi para pengikut,, Add FB aku juga ya.. di Indriyanti Agutina Putri dan my twitter @2096park