Halaman Yang Ada Di Blog-ku

Rabu, 28 Maret 2012

FF - Late Last - Part2/END



Author    : HHSPIR
Tittle    : Late Last
Casting    : Park In Ri, Lee Jin Ki, and other comeo
Genre    : Romance, Horror (?),
Rating    : PG-15 -TAPI mengandung bahasa yang sedikit frontal-
Note    :
-    Judulnya sengaja dibuat Late Last bukan karena Author ini ndak bisa bahasa inggris atau salah ketik wkwkwkwkwk (alibi)
-    Semoga kena deh ceritanya, soalnya yang jadi cast-nya bukan Bias siii :P Kalo ndak kena, dikena-kenain ya Readers yang baikkk....
-    Song Suggest; pokoknya lagu-lagu yang galau ajaaaaa
-    FF perayaan kembalinya SHINee dan berakhirnya UTS
*******************************************************************************************
Late Last

Tsk,
Dulu aku pernah berkata pada teman-temanku
Jatuh cinta pada karakter manga yang bermata besar dan berwajah sempurna itu perbuatan bodoh
Karena mereka tidak benar-benar ada
Tapi sekarang,
Aku membusuk dalam kalimatku sendiri
Aku salah
Aku salah waktu itu
Jatuh cinta pada sesuatu yang tidak ada itu..
Lebih baik..
Ah, tidak..
hanya akan lebih baik, jika pada kasus ku ini..



Dua minggu kemudian
.
.
.
“Kau sungguh beruntung, In Ri-aa!” kata yeoja manis yang sepertinya langsung duduk di tepi ranjangku.

Aku hanya membalasnya sambil tersenyum. Membayangkan angan-angan yang akan segera menjadi nyata.

“Kau tau, orang lain butuh waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan donor mata. Tapi kau?!” katanya lagi.
Ya, tadi pagi aku mendapatkan bahwa donor mata untukku sudah siap. Aku akan segera bisa melihat lagi, lusa aku sudah akan melakukan opreasi itu. Aku akan kembali melihat, merengkuh duniaku yang penuh warna lagi, dan yang terpenting aku akan segera menemuinya. Eh? Menemuinya? ASTAGAA!!!!! Aku lupa sesuatu.

“Eemhhh.. Jung Soo-aa.. mian. Tapi bisakan kau mengantarku ke taman rumah sakit?” tanyaku.

“Eh? Untuk apa?” dia malah membalasku dengan pertanyaan.
.
Aku hanya menyeringai tersenyum.

“Ahh!! Arra. Kau mau menemui Jinki? Benarkan? Ahh! Kebetulah aku sangat penasaran dengannya.” Katanya bertubi-tubi sambil mengguncang bahuku. “Ayo kita berangkat.” Katanya sambil menuntunku turun dari ranjang, mengambil tongkatku dan menuntunku dengan sabar.

+++

“Huuuuftt.” Terdengar lenguhan bosan dari Jung Soo.

Kami sudah berada disini sejak sekitar 30 menit yang lalu, tapi Jinki tidak juga datang.

“Apakah masih lama? Aku harus pergi kesuatu tempat.” Katanya

“Benarkah? Mmm.. kalau begitu pergilah dulu.” Kataku menoleh kan kepala. Semoga saja aku tidka salah menoleh.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya.

“Tidak. Jinki pasti akan segera datang.” Kataku yakin.

“Hhhhmm. Kau tau In Ri-aa? Kau terlalu percaya padanya.” Katanya menakut-nakuti ku. Ck, memang dasar (?) chingu ku yang satu ini. “Baiklah! Aku pergi! Anneyong!” katanya.

Aku menggosok-gosok kedua lututku dengan tangan, kembali menunggu. Ah, iya! Sepertinya sekarang aku sudah bisa melupakan Minho. Hah! Kalau ada yang bertanya siapa Minho. Aku akan berkata ‘dia mantan pacarku’ dengan tegas. Kalau ada yang bertanya bagaimana perasaanku sekarang. Aku akan menjawab ‘’bahagia’.

Mmmhh.. bagaimana bisa aku cepat sekali melupakannya ya? Apa aku menyukai namja lain? Apakah itu.. mm Jinki-ssi? Molla. Menurut pendapat readers bagaimana? >plak!<

Hujan tiba-tiba turun sedikit demi sedikit. Tapi bukan hujan lebat yang turun kali ini, tapi hujan gerimis. Aku menengadahkan tanganku pada udara yang kosong mencoba meraih air hujan. Oh iya, sebelum aku buta. Aku tidak terlalu menyukai hujan, tapi ketika nanti aku sudah tidak buta, aku akan tetap menyukai hujan. Karena, hujan yang membuatku bertemu dengan.. mmmm...

“Aku tau kau suka hujan In Ri-aa.. tapi tidak berarti aku mau hujan-hujan kan?” tiba-tiba suara seseorang yang sedari tadi aku tunggu terdengar sangat dekat ditelingaku.


Aku segera menoleh ke arah suara itu. Mencoba menatap matanya dengan mataku yang buta.

“Kajja kita pergi.” Katanya menggandeng tanganku.

“Ang gha!!” kataku sambil menggeleng cepat. “Jebal yo Jinki-aa.” Kataku

“Dasar anak bandel.” Katanya sambil mengusap pucuk kepalaku.

“Lusa, aku akan operasi mata.” Kataku.

“Benarkah?” tanyanya pelan. Aku kira dia akan mengatakannya dengan perasaan senang. Kenapa nada bicaranya begitu?

“Gureom. Kenapa? Kau tidak siap aku melihat wajahmu oeh? Ckckck,, aku harus mempertampan wajahmu setelah ini.” Kataku menggodanya.

“Yak!! Kau... tunggulah! Kau pasti akan terpesona padaku nanti!” katanya sambil mencubit pipiku dan mengarahkannya ke kanan dan kiri.

“Bisakah kau melakukan sesuatu untukku?” tanyanya dengan nada bicara yang berubah serius.

“Apa?” tanyaku yang entah kenapa mengikuti nada bicaranya.
.
.

(dirahasiakn hingga FF ini tamat)
.
.
“Baiklah.” Kataku mengiyakan permintaannya

“Baiklah! Ayo aku antar kau ke kamar lagi.” Katanya sambil menggandengku. Waktu itu, aku hanya menurutinya saja.


+++


Kami sampai di depan kamar rawat ku beberapa saat kemudian.

“Baiklah! Kau istirahat ya?” kataku

“Kau yang seharusnya istirahat! Kau kan akan segera operasi.” Katanya memencet ujun hidungku.

“Arrasooo.” Kataku membuat bentuk ‘O’ yang besar di mulutku.

“Baiklah, aku pergi.” Katanya

“Oppa!!” aku meneriakinya.

“Eh? Sejak kapan kau memanggilku Oppa?” tanyanya.

“Kapan kita bertemu lagi?” tanyaku.

“Mmm.. segera. Makanya cepat operasi dan segera sembuh, ne?” katanya.

“Baiklah! Anneyong, Oppa!! Saranghaeyo!!” kataku dengan nada usil padanya. Hahaha!! Dia pasti salting sekarang.

“Na do” katanya yang aku balas juluran lidahku dan segera menghilang dari balik pintu.

+++


Hari pertama setelah operasi


Kenapa kau tidak datang?

Aku sudah menunggumu disini.

Bahkan hujan juga ikut menunggumu

Aku sudah lebih baik sekarang

Perban di mataku ini akan segera dibuka dan aku akan segera bisa melihat warna lagi

Aku sudah siap oleh terpesona dengan mata dan senyummu

Tapi kenapa kau tidak datang?

Bukannkah kau janji kita akan bertemu?

.
.
.
.

Setelah aku bisa melihat dunia lagi


Kapan kau akan menemuiku?

Ini sudah kesekian kalinya aku menunggu

Dan sudah kesekian kalinya juga kau tidak datang

Kau kemana?

Apa kau sakit?

Kau tau, aku sangat-sangat merutuki diriku sendiri yang tidak pernah bertanya tentangmu..

Kau sakit apa?

Rumahmu dimana?

Selama ini aku terlalu banyak memikirkan diriku sendiri

Ma’afkan aku..

Tolong temui aku sehingga aku bisa menerima hukumanku

Besok aku akan keluar dari rumah sakit

Oh, iya. Aku akan segera menepati permintaan mu..

Semoga setelah itu, kau akan menemuiku


+++


“Terima kasih, In Ri-yang. Kau benar-benar gadis yang baik. Pantas Jinki memintamu.” Kata seorang wanita paruh baya berwajah ramah itu sambil menepuk pelan pundakku.

“Baiklah, Omonim. Saya pergi dulu.” Kataku sambil keluar dari bagunan luas itu. bangunan yang cukup luas untuk dihuni 30 anak-anak dengan lapangan bermain disisi depannya. Membuat setiap orang yang melewatinya bisa melihat gelak tawa anak-anak yang akhirnya bisa merasakan secuil keberuntungan setelah terpisah dari orang tuanya. Entah itu hilang, dibuang, atau terpisah selama-lamanya.


Aku kembali menyusuri jalanan lengang yang dipenuhi dengan fatamorgana dimataku. Musim semi telah berakhir, berganti musim panas yang begitu menyengat tak ada lagi hujan, tak ada juga dirimu. Tapi, jika hujan akan muncul pada musim semi mendatang, apakah kau juga akan muncul saat itu?

“Jinki?” tanya wanita paruh baya itu

“Ne. Aku kemari untuk memenuhi permintaannya sekaligus untuk mencari tahu tentangnya.” Kataku.

“Dia,,,”

“Ne?”

“Dia kecelakaan satu bulan yang lalu, dan beberapa minggu yang lalu dia meninggal.” Katanya menusukku.

“Apa? Lalu.. Laluuu.. Jinkkii..” kata-kataku tersengal.

“Jinki adalah donatur sukarela di panti kami ini.” Kata wanita paruh baya itu.

“Om..monim tau tempat tinggal Jin..ki?” tanyaku tersengal lagi.

“Sayangnya kami tidak pernah tau. Dia hanya akan selalu datang setiap minggu dan menemani anak-anak bermain.”



Aku kembali meneruskan langkahku setelah mengambil selembar daun yang jatuh. Terik matahari kali ini sangatlah menyengat. Fatamorgana. Bolehkah aku berharap fatamorgana itu bisa membentuk bayangan mu? Aku ingin melihatmu. Walau hanya sebuah fatamorgana. Aku ingin melihat dan merengkuhmu, walaupun ketika sudah dekat kau akan segera menghilang.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku tersadar dari lamunan panjangku ketika seorang waitters mengantarkan gelas cappucino keduaku.

Musim semi sudah datang lagi. Bau hujan ada dimana-mana, bahkan sekarang masih turun hujan. Hujan yang menemaniku mengingat semua kenangan tentang mu. Benar. Musin semi dan hujan mungkin akan kembali setiap tahunnya. Tapi kau tidak. Kau tidak akan menampakkan dirimu dihadapanku. Tak apa. Sepertinya waktu kita memang hanya sesingkat itu. Tak apa. Bukankah waktu yang singkat tetapi berharga itu sesuatu yang sangat sulit kau dapat kan? Aku bahagia pernah mendapatkannya. Denganmu.



THE END~~~

Huuaaaaaaa!!!!!! FF abal-abal ini ternyata bisa selesai. Saya kira ini FF bakalan jadi tak berujung.. wkwkwk... seperti yang sudah pernah saya sebutkan, kalo FF ini dibuat sebagai perayaan Comeback-nya SHINee meskipun agak telat (Cheosusemnida *BOW*) dan berakhirnya UTS saya, jadi yaaa.. gimana yaa,, maklumin aja ya, kalo sedikit (banyak kaliii) agak (sangat kaliiii) ndak kena, Cuma dibuat dalam waktu + 3 jam loooo. Bagaimana kah? Otte??? Setujukan, sama negosiasi saya??


DEEP BOW
*criinnngg!* ngilang bareng Taemin

Peom - As Tissue As Me

Tissue




“aku menemukan kata-kata bijak ini

ketika aku mengalami saat terberat dalam hidupku

tercampakkan...”


“Aku itu seperti kumpulan tissuee dalam kotaknya

Terpenjara, dan tak bisa kemana-mana

Hanya menunggu mu untuk mengambil ku dari kotak ku

Tapi aku cukup senang menjadi seperti itu..

Menjadi tissue

Yang setelah diambil selembar olehmu, akan muncul lembar lainnya yang baru..

Yang menjadi hal pertama yang kau butuhkan ketika menangis

Yang menjadi hal pertama yang kau ambil ketika berpeluh

Meskipun pada akhirnya kau buang ketika sudah kotor

Dan tidak berguna..”


“Aku senang karena menjadi tissue

Yang bisa menemanimu ketika letih dan sedih

Minimal aku tidak menjadi sepertimu

Yang bahkan tidak tahu siapa aku..”

Late Last -Part1-

Author    : HHSPIR
Tittle    : Late Last
Casting    : Park In Ri, Lee Jin Ki, Choi Min Ho
Genre    : Sad, Romance, Horror (?)
Rating    : PG-15 -TAPI mengandung bahasa yang sedikit frontal-
Note    :
-    Judulnya sengaja dibuat Late Last bukan karena Author ini ndak bisa bahasa inggris atau salah ketik wkwkwkwkwk (alibi)
-    FF nekat. Karena belum tau bakalan gimana kelanjutannya tapi sudah di aplut
-    Semoga kena deh ceritanya. Kalo ndak kena, dikena-kenain ya Readers yang baikkk....
-    Song Suggest; pokoknya lagu-lagu yang galu ajaaaaa
**********************************************************************************
Late Last
Kadang keterlambatan memang menyakitkan
Tapi tetap saja akan ada kebahagian ketika penantian berakhir
Tapi bagaimana kalau keterlambatan dan penantian itu bahkan tidak pernah ada.......
Lalu selama ini yang terlambat siapa?
Lalu selama ini aku menunggu siapa?



In Ri POV
“Aku merindukanmu” bisikku pada rintik-rintik air hujan yang jatuh perlahan.

Rintik air hujan itu seakan berusaha menembus dinding cafe disampingku dan menyanmpaikan titipanmu untukku. Dasar bodoh! Aku masih saja berfikir begitu.
Aku sedang menyesap secangkir cappucino hangat sambil melihat tenggelamnya cahaya matahari sore yang terbungkus oleh selaput mendung

Melihat bangku disampingku yang kosong dengan harap seseorang duduk disana menemaniku nanti. Setahun yang lalu, juga pada saat musim semi. Juga ketika bunga-bunga bermekaran dan tercium aroma hujan dimana-mana.

Kini aku benar-benar merindukannya
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Tangaku meraba ke roda besi dingin yang ada disisi kiri dan kananku lalu memutarnya. Membuatku keluar dari ruangan berbau obat menyengat yang sama sekali tak kusukai. Semilir angin dan aroma khas yang sangat aku rindukan akhirnya datang. Hujan akan segera tiba, aku segera memperkuat putaranku pada roda besi itu. menyusuri koridor yang seterang apapun menurut orang akan tetap gelap dimataku. Gelap, gelap, dan gelap untuk gadis buta sepertiku.

Terus ku arahkan kursi rodaku hingga benar-benar berbenturan dengan beranda pembatas lantai dua.

“Huh, sayang kamar rawatku ada dilantai dua” kataku berbisik sendirian.

Aku merendahkan tanganku mencari-cari dimana rintik-rintik air hujan itu turun. Bunyi air hujan sudah bergemericik, tapi aku tetap tidak bisa menyentuhkan tanganku pada air hujan yang sudah berjatuhan entah dimana.

“Andai saja aku tidak kehilangan penglihatanku dan jadi buta begini” keluhku muncul lagi setelah beberapa hari menyimpangnya dalam-dalam bersama setiap umpatan-umpatan yang mengingatkanku pada kecelakaan yang aku alamai beberapa minggu lalu.

Kecelakaan yang membuat kehilangan penglihatan dan merenggut setiap warna kehidupanku, juga cedera sementra pada kakiku membuatku benar-benar terpuruk pada hari-hari awal. Namun berhasil dibujuk dengan rayuan Umma dan Appa yang berkata secepatnya akan mendapatkan donor mata dan aku akan segera sembuh. Juga janjit namjachinguku yang akan segera puland dari US untuk menemaniku disini.

Aku masih terus seibuk merutuki nasibku hingga akhirnya tersara bahwa bunyi gemericik air hujan semakin jarang dan terdengan perlahan.

“Hujan akan segera berhenti” kata ku sambil terus mencoba mengarahkan tanganku agar dapat menyentuk air hujan, mulai bangkit dari kursi roda.

“Agak kesini” kata seorang sambil mengarahkan tanganku maju sedikit kekanan dengan sentuhan tangannya yang dingin namun lembut.

“Aku muali merasakan satu per satu tetes air hujan membasahi tanganku disusul dengan berpuluh-puluh tetep berikutnya. Seperti berpuluh-puluh jarum tumoul yang menerjang namun tak memberikan luka, dan jika aku boleh berharap hujan itu seperti langit yang ikut menangis karena penderitaanku.

“Terima kasih” kataku sambil tersenyum kesembarang arah karena tidak tahu dimana letak pasti orang tadi berdiri.

“Sama-sama” terdengat orang ini mengatakannya sambil tersenyum.

Aku semakin khidmat menikmati setiap tetes air yang membasahi tanganku, membuat suasana henign antara kami –aku dan orang yang entah kenapa aku yakin masih berasa disampingku.

“Lebih enak jika kau menikmatinya dilantai bawah” katanya dengan penuh kehalusan.

“Benarkah?” kataku penasaran.

“Tentu. Kajja! Aku antar kau” katanya.

“Eh?” terlambat, dia sudah mendorong kursi rodaku melewati koridor menuju tangga untuk pengguna kursi roda.

“Kita dimana sekarang?” kataku penasaran setelah kursi rodaku terhenti.

“Dilantai bawah, di tepi teman tengah rumah sakit” kata yang seperti mengambil posisi duduk disampingku.

“Dirumah sakit ini ada taman juga?” tanyaku.

Namun tanyaku belum sempat terjawab karena dia langsung meraih tanganku dan menadahkannya diudara. Merasakan kembali tetesam air mata langit hingga tanpa kusadari terbentuk senyum di bibirku.

“Boleh aku pinjam tanganmu sebentar?” tanyanya sedikit menyela kesenanganku dengan air hujan (?)

“Eh? Hmm..” kataku berdengung.

Kurasakan lagi sentuhannya yang dingin dan lembut meraih tanganku mengarahkannya kedepan namun sedikit menjulur kebawah. Membuat tanganku menyentuh sesuatu. Dia menggerakkan tanganku untuk emmetik sesuatu lalu menaruhnya dalam pangkuanku.

“Apa ini?” tanyaku.

“Bunga mawar” dia terdengar mengucapkannya dengan tersenyum lagi.

Aku mengarahkan bunga mawar itu dan menyentuh setiap kelopaknya yang basah oleh air hujan tadi.

“Terimakasih banyak... nggg” aku menggantungkan kalimatku tersadar kalau kami bahkan belum berkenalan.

“Hihihihiii..” Dia malah tertawa geli, membuat seluruh wajahku terasa panas. “Jinki, Lee Jinki imnida.” Katanya.

Andai saja aku bisa melihat sekarang, dia pasti sedang mengulurkan tangannya padaku. Andai saja aku bisa melihat, aku pasti bisa melihat senyumnya, senyum yang seharusnya terlihat hangat dan menenangkan. Andai saja!

Lagi-lagi untaian khayalan dan perandai-andaian datang menggelayutiku.

“Kau?” katanya memutuskan khayalanku.

“Eh? Mmm... Park In Ri” kataku menyodorkan tangan ketempat yang aku kira paling dekat dengannya.  Tapi sepertinya yang aku pikirkan salah, karena aku dengar dia melangkah sebentar.

“Bangapseumnida.” Katanya terdengar seperti mendekatkan wajahnya padaku.

Orang ini, orang ini sebenarnya wajahnya seperti apa?
Orang yang mendekatkanku pada satu-satunya hal yang membuatku bisa tersenyum dalam gelap seperti sekarang. Mengetahui langit ikut menangis dalam setiap gelapku.

“Mmm... Jinki-ssi juga pasien disini?” tanyaku mengingat ini bukan jam besuk.

“Bisa dibilang begitu” katanya lalu menyentuh punggunku.

Biasanya aku akan segera menangkis sentuhan-sentuhan seperti itu. Tapi sentuhannya seakan mengunciku, terasa ringan dan sangat nyaman.

“Kau suka hujan?” tanyanya yang mungkin sekarang sedang melihatku yang asyik menikmati tetesan air hujan yang jatuh ditanganku lagi.

“Iya, sangat!” kataku singkat tak mau kehilangan moment dengan airmata sang langit.

“Wae?” tanyanya lagi

“Hanya suka saja. Tidak butuh suatu alasan untuk menyukai kan?”

Dia tidak menjawab. Benar-benar hening yang menyelimuti kami. Hingga aku mulai merasakan tetesan air hujan makin jarang menyentuh tanganku yang masih setia menunggu tetesan selanjutnya. Hingga akhirnya tetesan itu benar-benar menghilang.

“Hhhhh...” kataku melenguh kecewa. “Hujannya sudah berhenti”

“Sudahlah, besok pasti turun lagi” katanya yang ternyata masih disampignku. Aku kira dia tidak akan letah menemaniku yang buta dan juga duduk di kursi roda ini.

“Mm.. iya, mungkin.” Kataku sedikit menggantung.

“Pasti turun lagi” katanya meyakinkanku lalu menepuk-nepuk pundakku halus.

Entah kenapa aku langsung mempercayai kata-katanya. Padahal ini sudah akhir musim semi, dan cuaca sudah mulai panas.

“Sekarang, ayo kembali” katanya mengakhiri keheningan diantara kami.

“Eh?” tanyaku sedikit kaget karena tiba-tiga tertarik dari lamunanku.

“Ayooo.. aku antar ke kamarmu” katanya.

Aku merasakan dia yang ada dibelakangku menunduk meraih penahan kursi roda yang ada di sisi depan. Membuat aku bisa mencium bau tubuhnya. Barang sekelebat, baunya harum. Perbaduan antara wangi maskulin dan aromaterapi.

“Kajja! Eh? Kamarmu dimana?” katanya polos sambil mendorong kursi rodaku perlahan melewati koridor sepi yang menurutku gelap. Namun merasakan ada seseorang yang memberikan kehadirannya untukku, membuatku lebih dari sekedar rasa nyaman.
******************************************

“Yakk!! Oppa, apa maksudmu?”

“Sudah, Inri. Cukup. Kita se-le-sai!” katanya sambil menekankan kata terakhir.

“Wae? Hikks..ughh,, hiikss. Wae? Apa salahku pada Oppa?” sentakku yang sudah tidak bisa lagi membendung air mata.

“Wae?!?! Kau masih bertanya? Kau sudah tidak berguna lagi In Ri. Sudah cukup? Puas? Jangan buat aku mengatakan sesuatu yang lebih kasar dari itu.”

Aku hanya membeku mendengar ucapannya, berusaha menahan rasa sakit yang berkecamuk.

Ada apa ini? Tiba-tiba Minho Oppa –namjachinguku—jauh-jauh menelepon dari US. Aku kria dia akan mengatakan kalau dia akan segera pulang, tapi malah pernyataan seperti ini yang aku dapat darinya. Dia meminta putus dari ku. Kenapa? Bukankah baru beberapa hari yang lalu dia berkata akan segera pulang ke Seoul dan menemaniku? Ada apa dengannya? Kenapa dia memintaku melepaskannya?

“Oppa? Apa Oppa menyukia yeoja lain?” tanyaku sambil meremas-reman selimutku. Berusaha menahan rasa sakit.

“Ck! Kau malah mencurigaiku? Yakk?! Park In Ri, lebih baik kau berkaca pada dirimu sendiri” katanya.

Aku termenung. Apa maksudnya? Apa dia mau bilang kalau dia memutuskanku akrena keadaanku yang buta sekarang. Kemana Choi Min Ho yang dulu hangat padaku, selalu mendampingiku susah ataupun senang. Min Ho yang menyesap lembut punggung tanganku dan tertidur dipangkuanku.

Ah! Benar! Sekarang, aku adalah seorang gadis buta yang tidak berguna. Ck! Dasar bodoh! Aku benar-benar tidak tau diri. Mana pantas seorang gadis buta bersama dengan Choi Min Ho, seorang pelajar pertukaran sekolah tinggi terkenal. Aku bukan siapa-siapa sekarang, tak lebih dari sekedar sampah.

“Kita selesai In Ri. Kalau pun suatu hari kita bertemeu, meski aku yakin dengan keadaanmu yang seperti itu tida akan bisa melihatku, anggao kita tidak pernah bertemu.” Ia benar-benar mengatakannya dengan datar dan menusuk.

“Annyeong.”

PIP..

Sambungan telepon terputus bahkan ketika aku masih belum sadar sepenuhnya dari apa yang beru saja dikatakannya.
===========================================================================

Author POV
In Ri kalap.

Setelah termenung beberapa saat, ketika seorang suster memasuki kamarnya dan meminta ijinnya melakukan pemeriksaan, In Ri meluapkan semuanya. Mulai membanting handphone, menarik lalu membuang selimut asal.

“Nona, apa yang anda lakukan?” tanya suster itu.

“PRAAAAAANNNGGGGG!!” (ini gelas pecah saudara-saudara) In Ri turuss dari ranjangnya dan menyapu bersih seluruh gelas kaca dimeja nakans dekat ranjang. Membuatnya terhempas kelantai dan pecah berkeping-keping.

“Arghhhh!!!” In Ri mulai mencoba berjalan, namun tentu saja dia jatuh karena cedera kecelakaan itu. pecahan kaca membuat permukaan lutut dan kakinya tertancap, membuat darah berceceran. Namun sungguh dia menjerit bukan karena itu. Bukan, semua itu semata-mata hanya alasan.

“Nona, Astaga!!” sang suster yang melihat itu semua memekik. Namun siapa peduli? In Ri sudah menutup telinganya.

Dia masih berusaha bangkit namun terhalang oleh selang infus yang masih menancap di nadinya. Dengan kasar In Ri menarik jarum itu dan membuangnya.

“Nona.. Nona tidak boleh melakukannya” kata suster yang masih berusaha menenangkan In Ri namun ketika sister itu berhasil menyentuh sedikit kulitnya, In Ri mulai memekik lagi.

“Pergi! Pergi!! Jangan sentuh aku!” katanya melempar apapun yagn ada didekatnya, tak terkecuali pecahan kaca yang membuat suster itu panik lalu pergi mencari pertolongan.

In Ri terdiam dalam tangisnya. Menangis sekeras-kerasya. Selama mata itu masih bisa digunakan untuk menangis. Ya, satu-satunya hal yang bisa dilakukan kedua mata coklat muda itu sekarang.
-----------------------------------------------------------------------------------------


In Ri terus menangis bahkan sampai tidka mengeluarkan air mata. Membuat rasa sakit yang menganga terasa timbul tenggelam.

Ia menutup dirinya dari dunia luar bahkan sampai langkah-langkah ringan yang menghampirinya tak bisa membuatnya yang duduk membelakangi pintu merasakan kehadiran sesosok itu.

In Ri terus menangis bahkan ketika langkah-langkah itu semakin mendekat.

Tuukk.. (ceritanya ini suara langkah ya chingu ^^)
Tukk,,
Tuk..

“Uljimayo..”
Perkataan itu diucapkan dengan cara yang sangat menyejukkan oleh orang yang tangannya sedang memeluk In Ri dari belakang.

“Uljimayo..” katanya lagi.

In Ri terdiam sesaat, menyimpan dalam-dalam aroma maskulin dan aromaterapi dari tubuh orang itu. Namun entah mengapa luka yang sesaat tadi tenggelam kini timbul lagi.

“Pergi!!” hentak In Ri seketika

“...”

“Pergi kubilang!!”

“...” tapi orang itu tak bergeming

“PERGI!!!!” kata In Ri mulai berusaha melepaskan diri.

Namun pelukannya malah semakin erat membawa tubuh In Ri terhanyut akan ketenangan hati sang empunya pelukan. Namun lukanya yang terlanjur timbul karena terjamah pelukan yang sama dengan pelukan mantan-namjachingu-nya masih mencoba merangsek keluar.

“...” Orang yang masih bergeming itu malah membenamkan kepalanya dalam pundak In Ri. Seakan berusaha merenggut semua penderitaan In Ri, menelannya untuk dirinya sendiri dan takkan membiarkan gadis ini merasakannya barang setetespun.

“Pergi..” kata In Ri mulai lirih

“Uljima..” katanya berbisik pada In Ri

“Gomapta, Jinki-ssi.”
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Dua minggu kemudian...



To Be Continued.. ^^
Sengaja mau buat reader marah, wkwkwkk!!! Doa’kan semoga menemukan inspirasi yang tepat untuk FF yang satu ini.

Terimakasih bagi yang sudah baca..

Sabtu, 31 Desember 2011

Half Life


Author: Park In Ri
Casting: Han Sang Hwa, Lee Jin Ki
Genre: Dream(?), Romance, Horror(?)
Rating: PG-15
Lenght: One Shoot
******************************************
Half Life
******************************************
Author POV
Sore itu, bunyi sirene melengking memecah suara berjuta-juta air yang turun ke bumi. Seorang Yeoja pengidap Sirosis baru saja ambruk dan sedang mempertaruhkan nyawanya di ambulance itu.
“Sang Hwa... Hiks, hiks, Sang Hwa! Bertahanlah! Jebal..” kata Ji Woo sudah hampir menangis melihat chingunya yang terbaring lemah.
“Ehm, iya Tante. Kami sedang membawanya ke Rumah Sakit biasanya. Iya. Baik, Tante.” Kata Seorang Yeoja lagi yang bernama Dong Ae sedang berbicara panik di ponselnya.
Ambulance itu melaju makin cepat menembus air hujan yang begitu deras membentuk tirai. Seseorang didalam sana sedang berusaha sekuat tenaga mempertahannkan nyawanya. Dia, dia adalah orang diantara banyak orang yang memilik keinginan hidup yang sangat besar.
“Demi apapun, aku ingin tetap Hidup.”

-------------------------------------------------------------------
“Kami harus segera melakukan operasi pencangkokan hati sekarang.” Kata seseorang dengan jubah putihnya yang panjang.
“Tapi, bukankah kita sudah menjadwalkan operasinya sebulan lagi dokter?” tanya Seorang laki-laki yang sedari tadi sibuk menenangkan seorang perempuan yang terus terisak.
“Kerusakan hatinya berkembang semakin parah. Kita tidak bisa menunggu selama itu.” kata Dokter.
Isakan perempuan yang duduk dikursi itu terdengar semakin besar. Seraya memanggil nama anaknya dengar Lirih.
“Sang Hwa.. Sang Hwa anakku..” katanya.
Laki-laki itu melihat istrinya sebentar lalu mengambil nafasnya dalam-dalam.
“Baiklah Dokter, saya akan segera menghubungi calon pendonornya. Lakukan sekarang.” Kata laki-laki itu serius.
--------------------------------------------------------------------

“Kami sudah mempersiapkan ruang operasinya, dan kami akan segera melakukan pembiusan.” Kata Dokter yang sama dengan dokter kemarin.
“Baiklah.” Kata Han Yun Ho, Ayah Sang Hwa.
“Jakkaman, dokter.” Kata Ibu Sang Hwa menghentikan langkah dokter.
“Boleh saya menemui Yong Hwa?” tanyanya.
“Tentu, silahkan.” Kata dokter.
Ibu Sang Hwa segera masuk ke ruang yang ditunjukkan dokter. Melihat putra pertamanya yang baru pulang dari luar negeri harus segera bersiap-siap menjalani operasi pencangkokan hati.
“Yong Hwa.” Kata Ibunya lirih.
“Ne, Eomma.” Kata pemuda itu tersenyum berusaha tidak menunjukkan rasa takutnya.
“Yong Hwa, terimakasih telah membantu Sang Hwa.” Kata Ibunya.
“Eomma, Gwaenchana. Sang Hwa itu adikku, sudah seharusnya aku melakukan ini.” Kata Yong Hwa menatap lurus ke mata Ibunya.
“Kau bahkan harus cuti kuliah untuk melakukan cangkok hati.” Kata Eomma.
“Eomma. Uljimayo.” Kata Yong Hwa berusaha menenangkan Ibunya.
“Berjanjilah kau akan baik-baik saja.” kata Ibu sambil memegang pundak putranya.
“Ne, Eomma. Aku janji.” Kata Yong Hwa.
Tak berapa lama kemudian, Ranjang Sang Hwa dan juga Yong Hwa telah berada di dalam ruang Operasi. Seluruh keluarga menunggu dengan panik di luar, mereka semua spontan menoleh ketika melihat lampu merah di atas pintu ruang operasi menyala. Pertanda operasi telah dimulai.
------------------------------------------------------------


Sang Hwa POV
Disini, tercium bau yang sangat harum
menenangkan,,
menggodaku untuk terus tertidur..
“Sang Hwa.. Sang Hwa.. Ireona.” Suara seseorang itu menggangguku. Dari suaranya, dia pasti seorang Namja.
“Sang Hwa.. Ireona.” Katanya lagi. Suara ini sangat lembut, hingga membuatku tanpa sengaja membuka mata. Penasaran kepada pemiliknya.
Ketika aku membuka mata, yang tampak adalah seorang laki-laki yang mungkin usianya sama denganku. Mengenakan bajunya yang putih, tampak seperti seorang malaikat dengan senyum ramah menghiasi deretan giginya yang rapi ditambah rambut cokelat mudanya.
“Sang Hwa.. sudah bangun?” tanya kemudian merangkul tanganku, membimbingku bangun.
“Nugu? Eodiga?” tanyaku ketika aku menyadari aku sedang tertidur di sebuah kursi yang ada di sebuah taman yang sangat luas, dihiasi dengan bunga-bunga dan pohon rindang yang condong menghadap sungai kecil yang airnya mengalir jernih ke muara danau.

“Aku? Panggil saja aku Jinki. Kau suka tempat ini?” tanyanya.
Aku menyernyitkan dahiku, berusaha mengingat. Suara terakhir yang aku dengar adalah lengkingan ambulance dan jeritan panik dari Ji Woo. Cahaya terakhir yang aku lihat adalah cahaya dari layar proyektor Lab Biologi. Kemudian aku merasakan sakit laluu,, aku ada disini.. apakah.. apakah.. apakah ini..
“Kau tidak perlu takut, ini bukanlah Surga atau semacamnya. Dan kau tenang saja, kau masih hidup.” Kata pemuda yang mengaku bernama Jinki itu, tepat ketika aku sedang menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.
“Ooohh..” kataku. Hanya itu yang bisa aku katakan.
“Kau suka tempat ini?” tanyanya lagi.
Aku segera memandang sekitar lalu mengangguk. Tempat ini nyaman dan tenang.
“Hemm..” katanya tersenyum. “Sayang kau hanya bisa mengunjunginya sekali.” Katanya lagi.
“Jinki-ssi, kenapa disini?” tanyaku
“Menunggumu.” Katanya pelan sambil tersenyum lagi.
“Eh?” aku merasa sesuatu yang panas diwajahku. Apakah wajahku memerah? Secara tidak sengaja aku mengipaskan tanganku disekeliling wajah.
“Kau mau ikut aku?” tanya Jinki-ssi sambil menyodorkan tangannya padaku.
*****************************************


Jin Ki POV
Aku senang akhirnya dia datang,
Aku senang ketika aku bisa memegang tangannya
Dan aku senang ketika bisa berjalan disampingnya seperti sekarang.
Aku menjinjitkan kakiku untuk meraih buah apel yang merah matang dan memetiknya.
“Kau mau?” tanyaku menawarkan apel padanya.
Lalu dia mengangguk pelan dan menerimanya. Kemudian dengan malu-malu menggigitnya kecil. Kyeopta!
Waktunya tinggal beberapa jam lagi.
“Mmmm.. bagaimana keadaan Yong Hwa Hyung?” tanyaku berbasa-basi.
“Eh? Kau mengenal Yong Hwa Oppa? Mm.. dia sedang belajar di Amerika sekarang.” Katanya setelah mengunyah apelnya.
“Aaaa..” kataku mengangguk-angguk. Tentu saja dia tidak tau, kalau sekarang Yong Hwa sedang tertidur disampingnya.
“Jinki-ssi, kenapa kita, mmm.. maksudku ‘aku’ hanya bisa mengunjungi tempat ini sekali saja?” tanyanya.
“Karena aku menunggumu disini. Hahahaha...” kataku.
Aku melihat wajahnya yang bingung dengan jawabanku, kemudian aku mencoba mengkoreksi jawabanku.
“Sang Hwa-ga. Sebenarnya, tidak semua orang bisa mengunjungi tempat ini. Bisa mengunjunginya sekalii saja seumur hidup sudah merupakan suatu anugerah.” Kataku sambil mengangkat tanganku ingin membelai rambutnya namun aku urungkan.

“He?” katanya sambil menggigit apel dengan cukup besar.
“Ani. Hanya saja, hidup ini seperti sebuah puzzle. Namun bedanya, jika kau salah meletakkan potongan puzzle kau bisa melepaskan dan menggantinya dengan potongan yang lain. Tapi hidup ini tidak, sekali kau memutuskan sesuatu kau tidak bisa mengubahnya lagi. Sekali terjadi sesuatu, kau tidak bisa memutarnya lagi. Mengerti?” tanyaku.
Tapi beberapa saat kemudian aku melihat ekspresi wajahnya yang polos sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Molla.” Katanya innocent
“Haiiisshhh, ya sudah. Kau makan saja apelmu.” Kataku sedikit kesal.
Kulihat dia memanyunkan bibirnya. Kemudian dengan berbinar-binar menyodorkan apelnya padaku. “Oppa mau?” tanyanya.
Oppa? Dia memanggilku Oppa? Oh Tuhan, ini bahkan lebih dari yang aku bayangkan. Ini bahkan jauh dari yang aku minta padamu Tuhan. Aku memandang apel yang dia sodorkan padaku dan wajahnya secara bergantian. Kemudian aku mendekatkan wajahku dan menggigit sedikit apelnya.
“Gumawo.” Kataku
“Ne, sama-sama.” Katanya kemudian menarik lagi apelnya dan menggigitnya dengan malu-malu.
*************************************


Sang Hwa POV
Aku mulai merasa
Kalau aku nyaman berada disini
Tempat ini menenangkan dan juga Jinki-ssi yang ada disampingku

“Kau mau duduk Sang Hwa?” tanya Jin Ki Oppa.
“Kajja.” Kataku kemudian berlari menuju pinggiran sungai yang tampak sangat jernih.
“Tidak apa-apa kita duduk disini? Nanti gaunmu kotor.” Kata Jinki Oppa.
“Eh?” kataku. Aku bahkan tidak menyadari kalau aku memakai gaun selutut yang berwarna putih. Sejak kapan aku memakainya?
“Gwaenchana, sepertinya disini nyaman.” Kataku kemudian duduk dipinggir sungai.
“Baiklah.” Kata Jinki Oppa menyusulku duduk disana.
Aku menurunkan kakiku terkena arus sungai yang membuat kakiku sedikit tertarik arus. Mengangkat kaki kiri dan kanan bergantian dan membiarkan bagian bawah gaun selututku basah oleh air. Aku menoleh ke Jinki Oppa yang baru saja memalingkan wajahnya dari ku.
Apa dia baru saja memandangku tadi? Haishh,, wajahku kembali memanas.
Aku melihat lagi kearahnya. Dia sedang mengayunkan kepalanya untuk untuk menyingkap rambut yang menutupi dahinya. Wajahnya tenang, sangat tenang, dan menenangkan.
Aku memainkan air di tanganku sebentar dan memercikkannya kewajah Jinki Oppa.

“Kekekeke..” aku tertawa melihatnya berusah menghindari percikan air dariku, tapi aku terus memercikinya.
“Ya! Sang Hwa!!” katanya berteriak jahil padaku.
“Kekekeke.. Jinki Oppa, hati-hati kau basah!” kataku menjahilinya.
“Ya! Baiklah, rasakan ini!” sekarang dia juga memercikiku dengan air.
Wajah tenangnya seakan hilang ketika tertawa. Berganti menjadi wajah yang tulus dan polos seperti seorang anak kecil, matanya yang kecil menjadi benar-benar hilang jika tertawa sepert itu.
Tidak terasa kami hampir basah karena terlalu asyik bermain air.
“Hahahah!! Oppa, berhenti! aku sudah basah! Hahaha!! Berhenti!” kataku sambil tertawa.
“Ya! Apa kau sudah mengaku kalah?” tanyanya.
“Baiklah, baiklah.. aku kalah.” Kataku menyerah.
Setelah kami berdua berhenti memercikan air kesatu sama lain. Kami berdua terdiam, terhanyut dalam pikiran masing-masing.
“Jinki Oppa..” kataku sambil menghadapkan muka kami berdua.
“Ne?” tanyanya.
“Apa Oppa tidak bosan sendirian disini?” tanyaku.
“Tidak. Karena aku tau, kau akan datang. Karena aku menunggumu.” Kata Jinki Oppa sukses membuat mukaku bersemu merah lagi.
************************************


Jin Ki POV
“Sang Hwa..” kataku ketika kita berdua sudah mulai diam lagi.
“Ne?” tanyanya.
“Kau haus?” tanyaku.
“Eung.” Balasnya.
“Kemari!” ajakku sambil menuju ke muara sungai kemudian duduk berjongkok disana.
“Sini, duduk disini.” Kataku sambil menepuk-nepuk tempat disampingku.
Dia merapikan roknya dan ikut duduk berjongkok disampingku.
Aku segera meraih kedua tangannya. Aku merasakan dia ingin menarik tangannya lagi.
“Gwaenchana.” Kataku pada Sang Hwa.
Aku meraih tangannya lebih erat, dan menyetarakan kedua telapak tangannya membentuk mangkuk kemudian memasukkannya kedalam air dan melepaskan genggamanku.
Aku juga memasukkan tanganku dan mengambil sedikit air lalu segera meminumnya.

“Ahhh.. segar!” kataku padanya.
Aku lihat dia masih membiarkan air itu ditangannya. “Ayo coba! Ini sangat segar.” Kataku tapi dia masih diam.
“Ini air bersih, jangan khawatir.”kataku menyakinkannya, hingga dia mau meminum air di tangannya itu.
“Otte? Segar bukan?” tanyaku disusul anggukannya.
Sang Hwa mengusap sisa air dimulutnya lalu duduk di tepi sungai lagi dan aku mengikuti apa yang dilakukannya.
“Kau mau tidur dipundakku?” tanyaku padanya.
Tak lama kemudian aku merasakan dia menyandarkan kepalanya pada pundakku. Rasanya penantianku selama belasan tahun ini terbayar sudah.
“Jinki Oppa..” panggilnya
“Ne..” jawabku mendengar dia memanggil namaku
“Gumawo..” katanya.
“Bukan, bukan kau yang harusnya berterimakasih, tapi aku. Gumawo,,” balasku
“Hheemm.” Aku bisa merasakan dia tersenyum.
Hening beberapa saat membuatku mengenang apa yang aku lakukan bersamanya hari ini. Ini sudah cukup meski hanya beberapa jam, ini sudah cukup. Ini sudah bisa membayar penantianku.
Astaga! Waktunya tinggal beberapa menit lagi.
“Sang Hwa..” kataku
“Mm..” balasnya
“Kau sudah tidur?” tanyaku
“Ani..” katanya.

“Ma’af, telah menghilangkan potongan puzzlemu yang hilang.” Kataku
“Eh?” balasnya berusaha bangun dari sandaran pundakku tapi aku mencegahnya.
“Aku berjanji, aku berjanji akan mengembalikannya.” Kataku.
“Oppa, apa yang kau katakan? Puzzle apa?” tanyanya lagi.
“Mulai sekarang, hiduplah dengan bahagia. Jangan pernah salah meletakkan potongan puzzle hidupmu.” Kataku.
“Karena aku akan tetap melihatmu dari sini, jadi yang ingin aku lihat darimu hanyalah kebahagiaan.” Kataku.
“Hmmmm.” Sang Hwa hanya bergumam, sudah tidur rupanya.
Aku menoleh pada kepalanya yang masih bersandar pada pundakku. Memutar pelan kepalaku, dan mengecup pelan keningnya. Chup
“Saranghaeyo, Sang Hwa. Saranghayo Yeongwonhi.” Kataku.
Waktunya sudah habis.
Aku memejamkan mataku, tidak tahan melihat kepergiaannya. Perlahan-lahan aku merasakan kepalanya yang bersandar dipundakku makin hilang dan akhirnya lenyap.
********************************


Sang Hwa POV
Operasi Pencangkokan hati itu sudah berlalu hampir tiga minggu yang lalu. Begitupula dengan pertemuan dengan Jinki Oppa. Pertama kali, aku merasa kecewa karena pertemuan itu hanyalah mimpi yang sangat panjang. Tapi aku percaya, aku memang pernah mengalami itu, aku memang pernah mengunjunginya, tempat yang hanya bisa dikunjungi satu kali seumur hidup.
Kenangan-kenangan tentang pertemuan itu selalu memudar setiap harinya. Maka dari itu aku selalu berusaha keras untuk mengingatnya, menulis setiap detailnya.
“Sang Hwa, kau baik-baik saja?” tanya seseorang di depan pintu.
“Ne, Eonni. Apakah Eonni baru dari kamar Yong Hwa Oppa? Bagaimana keadaannya?” Kataku.
“Iya, dia baik-baik saja. Lebih baik darimu malah.” Katanya menggoda untuk segera sembuh.
Dia adalah Lee Young Ki, Eonni manis teman dekat Oppa ku.  Dulunya kami pernah bertetangga sebelum aku sekeluarga pindah, tapi mereka bertemu lagi ketika universitas dan berteman baik hingga sekarang.
“Eonni, aku mau ke kamar mandi dulu.” kataku
“Ne. Hati-hati.” Katanya.
Aku berjalan ke kamar mandi dengan perlahan, aku hanya akan mencuci muka. Setelah mencuci muka aku malah terhayut memandangi bayanganku dalam cermin.
Aku berjalan keluar sambil memasukkan tangaku kedalam saku piyama rumah sakit. Tiba-tiba tanganku menyentuh sesuatu yang sedikit keras. Aku mengeluarkannya dari sakuku, dan memandanginya sebentar.
Sebuah potongan Puzzle. Aku pernah mengenal Puzzle ini.

Flashback~~
“Jinki Oppa! Pokoknya, Oppa harus mencari potongan puzzle ku!” kataku
“Ma’af, Sang Hwa! Aku janji aku akan mencarinya!” balasnya
“Kau harus mengemukannya!!” kataku sambil memanyunkan bibir manja dan pergi dari rumahnya.
“Ya,, aku janji.” Katanya lirih.
End Flashback~~

“Puzzle,,”
“Jinki,,”
“Lee Jin Ki!”
Berkelebat dalam pikiranku tentang seorang teman lama yang sudah tidak pernah aku temui lagi. Lee Jin Ki, aku sudah lama tidak mendengar kabarnya. Bukankah.. bukankah...
Aku segera berjalan cepat keluar dari kamar mandi dan menghampiri Young Ki Eonni.
“Eonni..” kataku
“Ne, Sang Hwa?” balasnya
“Apa Eonni punya seorang adik?” tanyaku.
“Kenapa kamu tiba-tiba bertanya begitu?” tanyanya sedikit kaget dengan pertanyaanku sampai-sampai menjatuhkan sekuntum bunga yang akan dijadikannya buket.
“Punya?” tanyaku terus mendesak Young Ki Eonni.
“Ya.. tapi sudah meninggal belasan tahun lalu.” Katanya
Dadaku sesak mendengar jawaban Young Ki Eonni, takut menerka-nerka kemungkin yang ada.
“Ma’af. Tapi, siapa namanya, Eonni?” tanyaku pelan.
“Jin Ki.. Lee Jin Ki. Kau juga pernah mengenalnya.” Kata Young Ki Eonni
Aku diam, mendengar jawaban Young Ki Eonni. Tanganku masih berada di dalam saku piyama, terus memegang potongan puzzle.

“Ya, aku memang pernah mengenalnya.”
“Bahkan kami baru bertemu beberapa minggu yang lalu.”
“Jin Ki-ssi..Ani, Jin Ki Oppa..”
“Terimakasih, terimakasih banyak..”
************************************

“Sama-sama Sang Hwa.”
“Teruslah bahagia, teruslah tersenyum.”
“Aku harap aku terus melihatmu tersenyum.”
“Selalu tersenyum.”







*FIN*
Huft, ini FF jadi dalam waktu kurang dari 6 jam, jadi maklum kalo hasilnya mengecewakan. Sebenernya udah lama ada ide buat bikin ini cerita, tapi tiba-tiba dapet anugerah –virus males saya ilang-, dan langsung saya tulis dan terhanyut ide sampe selesai. jadi, lahirlah FF ini.

31-12-2011 / 19.31
H-1, 1 day before 01-02-2012
-Home- Menunggu sendirian di malam tahun baru..
Park In Ri

Other Information

Ikuti Terus Blog ini ya...
Oiya,, bagi para pengikut,, Add FB aku juga ya.. di Indriyanti Agutina Putri dan my twitter @2096park