Halaman Yang Ada Di Blog-ku

Tampilkan postingan dengan label Lirik Lagu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lirik Lagu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 November 2011

Double Mask For Double Face 2 -part2-


Author POV
In Ri berjalan melewati lorong-lorong panjang sambil menggenggam rangkaian bunga anzu, tidak seperti biasanya dia selalu membawa bunga matahari. Ya, musim panas sudah berakhir. Musim telah berganti, begitu juga bunga yang digenggam In Ri. Namun In Ri masih menyusuri lorong-lorong kosong itu setiap harinya.
Tangan In Ri sudah menggenggam gagang pintu ketika tubuhnya merosot, terduduk ditanah sambil memeluk lutut.
“Oppa, kapan kau kembali?”
Dia mengucap lirih ditengah tangisnya. Menggeletakkan bunga anzu di sampingnya.
“Kau tau, aku merindukanmu Oppa.”
“Kenapa kau tidur lama sekali?”
Dia mengusap matanya dengan punggung tangan dan meraih bunga anzu itu lagi. Berusaha bediri dan menyunggingkan senyum paling lebar yang dia bisa.
“.. hanya senyum lebar,,
Bukan berarti senyum yang penuh kebahagiaan..”
Terkadang senyum adalah lambang penderitaan dan kesedihan..
--------------------------------------
In Ri menggengam gagang pintu itu lagi dan seketika mengubah wajah sedihnya menjadi topeng yang selalu tersenyum.
“Hai, Oppa.” Kata In Ri berjalan duduk kesamping ranjang dan meletakkan bunga anzu di vas, menggantikan bunga matahari yang sudah layu.
“Maaf tidak membawakanmu bunga matahari,, tapi bunga anzu ini tidak kalah indah kan?” katanya lagi lalu mengusap telapak tangan Taemin dengan handuk basah.
“Tadi aku, Gae Shin, Na Dae, So La dan Yoo Seo berjalan-jalan, menonton film dan membeli banyak barang-barang. Benar-benar menyenangkan.” Kata In Ri menahan suaranya agar tidak terdengar bergetar.
“Oh, iya. Umma dan Appa-mu mengirim salam. Katanya mereka ingin kau segera sembuh!” kata In Ri lagi.
Begitu terus setiap harinya,,
Menyusuri lorong-lorong sambil membawa bunga, menangis kemudian memasang wajah bahagia, lalu menceritakan berbagai hal indah yang sebenarnya terasa tawar di hatinya.
Begitu terus setiap harinya,,
Memakai topeng.
*****************
Taemin POV
Aku dekatkan langkahku ketika In Ri masuk ke kamarku, ia mengganti bunga dalam vas dan mengelap telapak tanganku. Aku tau semuanya, karena aku melihatnya meski tidak bisa menyentuh dan berbicara dengannya. Aku juga melihatnya ketika dia menangis dibelakang pintu kamar tadi dan memaksakan senyumannya didepanku. Dan aku sedih melihatnya.
Kumohon..
Jangan hanya tersenyum jika didepanku
Sekali-kali cobalah untuk menangis jika itu dapat membuatmu lebih baik
Jangan hanya tersenyum dan berkata "Aku baik-baik saja" didepanku tapi menangis dibelakangku
Itu malah membuatku sedih,,
Sekali-kali cobalah menangis, mengeluh dan berkata "Kenapa semua jadi begini" padaku.
Agar aku bisa menghapus air matamu dan memberikan senyuman yang sebenarnya padamu
Bukan hanya senyum palsu...
Agar aku bisa menghapus air matamu dan memberikan senyuman yang sebenarnya padamu
Ketika aku sadar dan kembali nanti..
******************************
Author POV
 In Ri segera berlari menyusuri lorong-lorong itu lagi, namun kali ini dengan airmata bahagia. Ia segera datang kemari ketika dokter berkata bahwa Taemin sudah sadar. In Ri berhenti ketika seorang dokter keluar dari ruang perawatan Taemin.
“Dokter, bagaimana keadaannya?” tanya In Ri tidak sabar
“Secara keseluruhan dia sudah baik-baik saja.” kata dokter melepas stetoskop dari telinganya
“Bisa saya jenguk sekarang?” tanya In Ri lagi.
“Tapi, kau harus siap dengan keadaannya, sepertinya dia...”
In Ri masuk ke kamar itu perlahan, hingga hanya menimbulkan decitan kecil pada pintu yang dibuka. In Ri masuk beberapa langkah, ia melihat Namjachingunya tidur dengan posisi miring. In Ri mengambil tempat duduk dan Taemin tetap memunggunginya tidak bergerak.
“Selamat datang kembali, Oppa.” Kata In Ri menahan tangis bahagianya
“Kenapa kau mengganti bunganya? Kau taukan aku suka bunga matahari.” Kata Taemin dingin tanpa menoleh.
In Ri hanya tersenyum menanggapi jawaban dingin namjachingunya. Ia sudah tau kalau akan jadi begini. Kata Dokter, pribadi yang ada dalam diri Lee Taemin sekarang adalah pribadi keduanya. Dan yang terpenting adalah, dokter tidak tau apakah kepribadian awalnya dapat kembali atau tidak.
-------------------------------------
In Ri sedang memandang ke jendela rumah sakit yang memancarkan cahaya matahari kecoklatan yang hendak terbenam. Sepertinya musim semi telah datang, berarti ini sudah 6 bulan sejak Taemin koma dan 3 bulan sejak Taemin sadar dan menjalani masa penyembuhan.
Kini mereka sudah bersiap untuk pulang, In Ri sudah mengemasi semua pakaian. Lee Taesun juga sepakat menjaga adiknya di apartement untuk beberapa saat hingga adiknya itu benar-benar pulih. Yang dimaksud ‘benar-benar pulih’ adalah pulih dari luka kecelakaan bukan dari penyakit lamanya. Karena jelas-jelas dia belum mengetahui kalau adiknya adalah penderita Alter Ego.
In Ri mendengar pintu kamar mandi dibuka, pertanda Taemin telah selesai berganti baju. In Ri tidak bergerak, berharap Taemin akan berdiri disampingnya memandangi matahari sore. Tapi tidak, beberapa saat kemudian, ia merasakan tangannya dicengkeram erat dan ditarik kasar oleh Taemin. Ia terus menarik tangan In Ri ke koridor-koridor dengan langkah cepat, membuat In Ri tertatih-tatih mengikuti langkahnya.
“...aku tau, harapanku tadi terlalu berlebihan..”
*************************
In Ri POV
Aku hanya terus berusaha mengikuti langkahnya, hingga kami berdua masuk dalam lift.
“Aku akan memberimu kesempatan untuk pergi.” Kata Taemin.
“Ha?” tanyaku.
Taemin memencet beberapa tombol lalu menjawab pertanyaanku. “Aku tidak memaksamu untuk selalu disampingku. Jadi jika kau mau pergi, pergi sekarang atau aku akan mengikatmu selalu disampingku.”
Lift mengeluarkan suara pertanda bersiap untuk menuju ke lantai bawah.
“Aku akan mulai menghitung sampai lima.” Kata Taemin dengan nada memperingatkanku.
“Satu”
Apa-apaan namja disampingku ini?
“Dua”
Hah? Apa dia mau mengetesku?
“Tiga”
Baiklah kalau begitu.
“Empat”
Aku melangkahkan satu kakiku untuk keluar dari lift.
“Lima.” Kurasakan tangannya melingkar di pergelangan tanganku sehingga aku terhindar dari pintu lift yang menutup dengan cepat. Ia kemudian menarikku dalam pelukannya dan mendorongku semakin dekat.
“Waktumu habis. Sekarang kau harus selalu bersamaku.” Katanya dingin disamping kepalaku.
Sedangkan aku hanya tersenyum di atas pundaknya.
“Meski tatapannya dingin,,
Aku masih bisa merasakan kehangatan dipelukannya..”
--------------------------------------------------
Apakah ini rumahku?” tanya Taemin begitu memasuki rumahnya.
“Tentu saja, sekarang duduklah. Aku sudah menyiapkan makanan.” Kata seorang pemuda keluar dari dapur dengan celemek di badannya.
“Aku ke kamar dulu.” Kata Taemin begitu saja melewati Taesun Oppa.
Aku memandang pemuda yang terlihat kecewa karena sikap adiknya itu. “Oppa harus sabar ya? dia masih memiliki sedikit cedera di kepalanya. Tak perlu khawatir, pasti akan segera sembuh.”
“Eh? Rupanya kau perhatian sekali, In Ri. Baiklah! Aku akan jaga dia demi kau.”
**************************************
Tae Min POV
Begitu masuk kamar ini, aku langsung menuju kamar mandi yang terlihat aneh. Aku merasa ada yang salah disini. Aku tidak asing dengan tempat ini, tapi tidak bisa ingat tempat ini. Orang-orang itu juga, hanya gadis itu yang aku tau namanya, itupun karena dia selalu mengunjungiku selama tiga bulan dirumah sakit.
Siapa aku? Dimana aku? Apa yang terjadi? Aku tidak berhasil menemukan jawabannya dan semua ini membuatku marah. Aku seperti dibuang dari duniaku dan terjebak dalam dunia lainnya. Ini menyebalkan! Apakah dunia ini berusaha mempermainkanku?! Hah!! Aku terus mengumpat dalam hati, hingga aku mendengar pintu kamarku diketuk dan seseorang masuk.
Aku buka sedikit pintu kamar mandi dan melihat In Ri sedang memandangi beberapa foto di meja kecil samping ranjangku. Apakah itu benar ranjangku? Hah!! Dunia ini membuatku terlihat bodoh! Aku seperti dijebak. Dan aku tidak suka!!
Pernahkah kau merasa terjepit.
Seakan dunia ini mempermainkanmu. Seakan semua pintu keluar tertutup untukmu
Dalam satu situasi,, Kau tidak bisa keluar dan tidak mau masuk.
Jika itu yang terjadi, Cobalah untuk masuk dulu.
Mungkin dalam ruangan itu, kau akan menemukan pintu-pintu keluar yang lain.
Kata-kata itu mendorongku, hingga sekarang aku sudah berada di sampingnya. Duduk disebuah sofa menghadap jendela.
“Siapa kau?” itu kalimat yang langsung muncul begitu aku melihat sinar matanya.
“Oppa tidak kenal aku, tapi hafal pada sinar mataku. Ya kan?” jawabnya
Aku mendekatkan wajahku pada wajahnya dan menempelkan bibir kami. Saat masih berciuman ada sesuatu yang berkelebat di mataku, entah kenapa membuatku sedikit menggigitnya.
Aku hentikan perlakuanku dan menjauhkan diri, bertanya padanya “Apakah ini sudah benar? Apakah aku sudah berada ditempat yang benar?” tanyaku.
“Kenapa?” tanyanya.
“Aku pikir kau yang paling tau dan paling bisa memberi penjelasan. Aku benar-benar bingung.” Kataku.
“Oppa, kau cukup pegang tanganku, dan ikuti aku. Maka semuanya akan baik-baik saja.” katanya meyakinkan.
Aku melihat sinar matanya lagi dan melihat ketulusan disana. Hah?! Bodoh! Aku sendiri tidak tau apa itu ketulusan.
Aku dekatkan lagi bibirku padanya. Menciumnya sekilas namun berkali-kali.
“Dunia ini seakan menjebakku,,
Dan membuatku terlihat bodoh.”
*********************************

Double Mask For Double Face 2 -part1-


Author : Park In Ri (again.. gag bosen apa baca FF dari ini author?)
Casting : Royal Couple,, Park In Ri & Lee Taemin (ngalah-ngalahin Kate Middleton sama Prince William!!!)
Genre : Romance, Sadlystic, pokoknya gag Yaoi!! Tidak ada yang seperti itu! karena saya benci budaya 2min!! Jealous ma Minho!! *Nah lo? Kok curhat?!
Rating : Kalo part 1-nya adalah PG-16 yang ini PG-16,5 (tebak yang kayak gimana itu?!)
Note : Merasa terbang diangan ketika ada beberapa orang bilang yang Double Mask For Double Face 1 bagus, adalah sebuah keputusan besar membuat sekuelnya *text pidato mode : On. Perasaan saya mengatakan yang ke-2 ini nggak lebih bagus dari yang pertama. Tapi,, ya dicoba dulu lah!

DOUBLE MASK FOR DOUBLE FACE –SERI 2-
Aku sudah bilang bukan?
Aku suka semua yang ada pada dirimu...
Belum? Kalau begitu sebagai gantinya, akan ku katakan 1000 kali setiap harinya,,
------------------------------------------------
Aku adalah bunga matahari
Sedangkan kau adalah matahari
Matahari yang bersinar dan menyilaukan
Dan aku hanya sekuntum bunga matahari yang harus selalu melihatmu untuk bertahan hidup
Meski sinarmu membuatku sakit aku harus tetap melihatmu agar bisa bernafas
Namun apakah kau mengenalku?
Aku yang selalu melihatmu
Aku yang hanya sekuntum bunga diantara berjuta makhluk yang melihat dan menyanjungmu
Meski kau bahkan tak tau aku ada
Aku akan terus melihatmu
Karena bunga matahari ditakdirkan hanya untuk melihat ke matahari
************************************
In Ri POV
“Kau yakin sudah semuanya?” tanya Taemin memeriksa lagi barang bawaanku.
“Iya! Ayo cepat, nanti aku terlambat.” Kataku. Mobil kamipun berjalan.
Hari ini aku harus menghadiri study tour, dan aku meminta Taemin untuk mengantarku. Kulihat namja berambut kuning almond disampingku itu.
“Arrgghhh.” Katanya menggeram membuatku sontak menengok. Kulihat tangannya bergetar dan keringat dinginnya bercucuran.
“Perlu aku gantikan menyetir.” Tanyaku perlahan lalu dibalas dengan gelengan kecilnya.
Keadaannya sudah jauh lebih baik dari beberapa bulan lalu saat ia membuat 19 bekas jahitan di pahaku. Ia sudah bisa merasakan jika penyakitnya akan kambuh, dan sedikit demi sedikit bisa mengontrolnya.
Kami melewati perjalanan dalam diam, hanya menyisakan suara nafasnya yang naik turun menahan amarah. Sesekali aku memegang lengannya mengingatkan bahwa aku ada disini. Kamipun sampai ditempat yang aku tuju, namun begitu turun aku malah ragu bisa meninggalkannya mengemudi sendirian atau tidak.
“Oppa yakin bisa pulang?” tanyaku.
“Hmm.” Katanya tertahan.
“Hati-hati.” Kataku memandangnya.
“Ne.” Katanya sambil mencium keningku lalu masuk kedalam mobil dan pergi.
Aku tatap jalanan yang bahkan sudah tidak menampakkan mobilnya dengan pandangan khawatir hingga ada seseorang menepuk pundakku.
“Ayo masuk.” Kata Yoo Seo mengajakku.
“Emm.. Yoo Seo, bisa kau izinkan aku ke pada Kang Seongsangnim? Aku harus kembali kerumah karena ada urusan, jika sudah selesai aku akan segera kemari. Oke?” kataku tanpa membiarkannya menyela dan segera berlari menuju halte bus terdekat.
Perlu waktu 10 menit untuk menemukan bus ditempat seperti ini. Aku menaiki bus pertama yang entah bertujuan kemana, yang penting aku bisa segera menyusulnya.
Author POV
In Ri sedang berdesakan di dalam busnya ketika bus itu tiba-tiba berhenti, membuatnya harus lebih menyeimbangkan diri. In Ri melihat ke sisi kanan jalan yang merupakan jurang curam dengan bebatuan tajam. Bus kembali berjalan, menyisir hiruk-pikuk orang yang sedang berdiri di tepi jurang.
Telah terjadi sebuah kecelakaan disana. Sekarang Tim SAR sedang berusaha mengangkat mobil yang terperosok kejurang itu. Tepat ketika mobil itu berhasil diangkat, bus In Ri melewatinya. Mobil yang sangat dihafal In Ri, bahkan baru 15 menit lalu ia ada dalam mobil itu. Dengan kap mobil yang sudah tidak berbentuk dan penuh dengan goresan batu-batu jurang yang tajam.
-----------------------------------
Sudah 3 jam In Ri duduk memeluk tasnya tak bergerak di depan sebuah pintu putih yang besar, menunggu seseorang keluar dan memberinya penjelasan. Bagi In Ri tentu saja ini adalah saat yang sulit, saat dikeluarkan dari mobilnya keadaan Taemin tidak menunjukan luka luar yang parah, namun dalam perjalanan ke mari dia memuntahkan darah, menggambarkan luka dalamnya yang mengenaskan. In Ri sudah menghubungi keluarga Taemin, mungkin besok mereka akan sampai.
Ingin sekali ia masuk dan menemani Taemin disaat seperti ini, ia ingin menjadi hantu dan menembus tembok itu sekarang, tapi jelas itu tidak bisa. Sekarang ia tidak tau harus berbuat apa, menangis? Tidak. Dia terlalu bingung bahkan hanya untuk menangis, terlalu sedih bahkan air mata tak sanggup menggambarkannya. Menangis dalam hati. Itu kedengarannya lebih menyakitkan.
..Kau,,
Kau begitu dekat,
Namun untuk melihatmu saja aku tidak bisa..
*****************************************
Taemin POV
Disini,,
Menyilaukan.. cahaya ini menyakitkan..
Tiba-tiba terdapat sebuah layar besar yang menampilkan film-film kehidupanku..
Semuanya berputar begitu cepat,
Orang-orang yang hidup dalam kehidupanku,,
Memberikan berbagai warna dalam hidupku..
Semuanya masuk dalam anganku, menampilkan kenangan-kenangan manis,,
Membuatku tidak ingin terbangun..
Hingga aku ingat padamu,,
Aku ingat harus mengatakan sesuatu padamu..
Aku harus bangun,,
Karena aku belum sempat mengatakan,
“..Maaf, karena mencintaimu..”
*************************************
In Ri POV
Lega dan juga sedih ketika dokter mengatakan Taemin koma. Lega karena itu berarti aku masih bisa melihatnya lagi, dan sedih karena aku bisa melihatnya tanpa cahaya matanya. Aku menyiapkan beberapa bunga dan menyemprotkan aroma terapi kesukaannya kedalam ruang perawatannya. Aku ingin dia merasa nyaman di kamar perawatannya meskipun dia tidak mengetahuinya, tapi aku yakin dia merasakannya.
---------------------------------------------------------
Aku sedang mengusap dahinya yang berpeluh ketika pintu kamarnya terketuk. Muncul seorang wanita paruh baya dan juga pria yang rambutnya mulai memutih juga seorang namja berusia 23 tahunan. Aku bangkit dari kursiku dan memberi hormat pada mereka.
Wanita paruh baya itu langsung mengahampiri ranjang Taemin dan memeluk anak laki-lakinya itu erat.
“In Ri, bagaimana keadaannya?” tanya Ayah Taemin.
“Dokter meminta Omonim untuk menemuinya.” Kataku sambil melihat Ibu Taemin yang masih menangis disamping tubuh anaknya.
Aku hanya bisa berdiri di belakang mereka semua. Ini bukan pertemuan yang indah bagi sebuah keluarga yang sangat jarang bertemu. Tak berapa lama kemudian Ibu Taemin menghampiriku dan mengajakku menemui dokter.
“Beberapa tulang rusuknya patah, tapi kami sudah mengatasinya. Yang paling penting sekarang adalah menunggunya sadar, baru kita bisa memastikan apakah dia baik-baik saja.” kata Dokter begitu Ibu Taemin bertanya tentang keadaan anaknya.
“Lalu, kenapa sampai sekarang dia tak kunjung sadar?” tanya Ibu Taemin.
“Ini mungkin karena alam bawah sadar Taemin berbeda dengan yang lainnya. Penderita alter ego *red:kepribadian ganda* memiliki alam sadar yang sedikit berbeda, saat koma dua kepribadian itu akan bertarung merebutkan satu raga.” Kata dokter dengan nada prihatin.
“Itu berarti, ada kemungkinan dia sembuh?” kali ini aku yang bertanya.
“Ya, tapi juga kemungkinan dia terperangkap dalam pribadinya yang lain..” kata dokter itu dengan nada yang semakin merendah.
Begitu kami keluar dari ruang dokter, Ibu Taemin segera menarik tanganku dan memintaku duduk di cafetaria rumah sakit.
“In Ri-aa,” katanya memanggilku pelan.
“Ne, Omonim.” Kataku pelan.
“Terima kasih, sudah menjaga Taemin hingga sekarang.” Katanya sambil memelintir tissue yang mengusap matanya.
“Aniyo, Omonim. Aku senang melakukaknnya.” Kataku
“Sebelum kecelakaan itu, apakah Taemin sedang kambuh?” tanyanya tersendat karena ragu akan dapat menerima jawaban sebenarnya.
“Omonim tenanglah semuanya akan baik-baik saja, Taemin Oppa pasti bisa melewatinya.” Kataku.
Aku tidak yakin ucapanku itu berguna,,
karena sesungguhnya perasaanku juga tidak karuan.
********************************

Double Mask For Double Face -part3-


********************************************************
In Ri POV
“Aigoo!! perasaan kita baru saja masuk ajaran baru, kenapa sekarang sudah ujian akhir?!” Umpat So La sambil menjejalkan roti kemulutnya.
“Mana Na Dae, Gae Shin dan Yoo Seo?” tanya ku membuka bungkus permen dan memasukkannya dalam mulut.
“Mereka bolos hari ini. Katanya ingin menenangkan diri untuk ujian besok. Hari ini seluruh jam kosong kan?”
“Ha?” hanya itu yang ku katakan lalu kembali berkonstentrasi pada permenku.
“Apa yang kau siapkan untuk ujian akhir pelajaran seni?” tanya So La lagi.
“Emmm.. aku mau meminta Taemin Oppa untuk mengajari ku dance. Dan...” belum selesai kata-kataku terpotong oleh So La.
“Jinja?! Akkhhh,,, aku juga ingin bisa dance! Tolong bilang ke namjachingumu untuk mengajariku juga!! Ya?” katanya panjang.
Aku melihat mukanya yang memasang Puppy Eyes. Haishh!! Chinguku yang satu ini!
“Iya, nanti aku tanyakan. Kalau dia setuju, berarti kau mulai latihan minggu depan.” Kataku tidak tahan melihat air mukannya.
“Aaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!! Kau baik sekali, In Ri! Semoga tuhan selalu disisimu!!!!” katanya merentangkan tangan akan memelukku, sebelum seongsangmin masuk ke kelas.
Gawat Na Dae, Gae Shin dan Yoo Seo akan dapat masalah hari ini.
Tapi kenapa Taemin Oppa memintaku berlatih di  gedung olahraga ya? Padahal biasanya kami berlatih dirumahku. Eh? Sudah lah!
*********************************************************
Taemin POV
Dari pagi aku sudah ada di sini untuk mendekorasi gedung ini. Hari ini adalah perayaan 2 tahun hubunganku dengan In Ri. Jadi, aku ingin memberinya sedikit kejutan.
“Huwa!! Setengah jam lagi In Ri datang!” pekikku panik.
Tidak terlalu banyak yang kulakukan, hanya menggantungkan beberapa balon, dan menyiapkan makanan-makanan kesukaan In Ri di meja tepi kolam renang.
“Hahh!! Capek!” kataku bergumam sendiri.
Sepertinya aku tidak bisa membantumu. Appa memintaku membantunya dirumah. Mian, Taemin.
Ku tatap SMS dari Minho hyung, sambil menghempaskan pantatku dikursi. Lalu pikiranku kembali melayang.
Apa In Ri akan menyukai ini? Aku harap iya. Entahlah! Aku merasa kalau selama 2 tahun ini, aku tidak menjadi namjachingu yang baik untuknya. Aku kurang baik untuknya, atau bahkan terlalu buruk? Dia selalu membuatku bahagia tapi aku selalu membuatnya terluka. Dia memang sering menyakinkanku, namun keadaan bisa berubah kan? Bukannya aku tidak percaya padanya, tapi aku tidak percaya pada diriku...
“...Yang tiba-tiba saja bisa melukainya,,
Tanpa sadar..”
****************************************
Author POV
Seperti dugaan, 30 menit kemudian In Ri datang. Mengenakan celana pendek diatas lutut yang hampir tertutup oleh kaos ungu panjangnya.
“Oppa.. aku sudah datang.” Kata In Ri sambil memasuki gedung olahraga yang sepi. Dari studio dance ia berjalan di sepanjang koridor untuk mencari Taemin. Namun koridor-koridor itu kosong, kemudian ia mendengar seseorang berjalan di tepi kolam.
“Eh? Oppa ada disini? Kenapa pakai baju seperti itu?” tanya In Ri heran melihat namjachingunya mengenakan celana panjang hitam, dengan kemeja putih.
“Hhh... duduklah.” Kata Taemin berusaha menggendalikan dirinya, lehernya sudah dibasahi dengan keringat dingin, dan tangannya membentu posisi tinju menahan amarahnya.
“Wah, banyak sekali makanan disini.” Kata In Ri takjub kemudian duduk.
“Oppa tidak ikut duduk?” tanya In Ri lagi
“Sebentar.” Kata Taemin mengambil langkah sedikit menjauh.
“Oppa..??” In Ri bangkit dari kursinya, dan menghampiri Taemin. Menyentuh tangannya, kemudian baru merasa kalau sesuatu sedang terjadi dan segera melepaskannya.
“Wae?!” Taemin berbalik arah, membuatnya berhadapan dengan In Ri.
Taemin semakin mempercepat langkahnya sedangkan In Ri terus berjalan mundur kemudian berlari menuju tempat dance. ‘Bodoh!’ itu umpatnya dalam hati pada dirinya sendiri. Kini ia malah terhimpit ruangan yang dikelilingi kaca. Ia berusaha keluar namun terlambat, Taemin sudah ada didepan pintu, membawa sebuah pisau. Penampilannya berantakan sekarang, kemejanya keluar tidak karuan dan rambutnya acak-acakan. Matanya berkilat dan menyunggingkan senyum mengerikan.
“Haii..” katanya mendekati In Ri yang berjalan menjauh.
Taemin menggoreskan pisau ke salah satu kaca, menimbulkan suaran decitan yang menyayat.
“Kemarilah! Katanya kau tidak mau menjauhi ku?!” tanya Taemin menyeringai.
“Hajhima, Oppa. Hajhima!” kata In Ri mulai menangis melihat namjachingunya.
In Ri memikirkan sesuatu sebentar dan mendekat pada Taemin, menepuk pundaknya kemudian memeluknya. “Oppa, sadarlah!” kata In Ri tepat ditelinga Taemin.
Terdengar suara nafas Taemin yang tidak karuan, kemudian melemah membuat In Ri sedikit lega.
Namun tiba-tiba Taemin meletakkan tangannya dileher In Ri dan menekan kepalanya agar bibirnya dan dapat menggapai bibir In Ri. Ia menggigit bibir bawah dan atas In Ri bergantian kemudia mengulumnya. Menekan tengkuk In Ri agar lidahnya bisa masuk ke rongga mulut In Ri.
In Ri menerima begitu saja perlakuan namjachingunya, namun ia menangis tertahan sambil berusaha mempercayai kalau..
Namjachingunya sedang berusaha keluar sekarang...”
---------------------------------------
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAarrrrgghhhhhhhhh!!!” jerit In Ri ketika merasakan sebuah pisau menancap di paha kanannya.
Taemin melepaskan ciumannya dan mendorong In Ri sehingga tubuhnya membentur kaca. Darah In Ri keluar deras begitu saja, membuat kaca-kaca disekelilingnya bernoda darah. Taemin mendekati In Ri dan kembali menancapkan pisaunya ditempat yang sama, lalu menggerakkannya membuat luka melebar berkali-kali.
In Ri mendorong Taemin menjauhinya, kemudian berjalan terseok-seok keluar dari ruang dance sambil memegang lukanya. Sampai ditepi kolam, Taemin berhasil mengejarnya kemudian menghunuskan pisau kedepan lehernya. Membuat In Ri berjalan mundur, kemudian jatuh ke kolam renang.
Seketika, darah In Ri berpendar, tercampur dengan air kolam yang sedikit demi sediki berubah menjadi merah. Taemin ikut menceburkan diri, masih terus berusaha melukai In Ri. In Ri berusaha keluar dari kolam namun Taemin menarik pergelangan kaki kirinya hingga ia kembali masuk kedalam air.
Taemin mendorong tubuh In Ri dan menahannya di dasar kolam. In Ri yang memang sudah tidak bisa bernafas berusaha untuk naik, namun Taemin mencekiknya hingga ia terus berada dalam air.
1 menit,,
2 menit,,
5 menit,,
In Ri didalam air bersama dengan semua lukanya.
*************************************
In Ri POV
Semuanya Gelap..
Entah, aku tidak sadar selama berapa lama..
Ruangan ini lembab, dan penuh bau yang menyengat.
Kucoba gerakkan tubuhku, namun semuanya terasa sakit, terutama kaki kananku, terasa perih dan ngilu. Aku coba membuka mataku perlahan, namun yang terlihat adalah cahaya putih menyala besar yang berada tepat di depan mataku.
“In Ri, Ireonayo?” suara seorang wanita membuatku membuka mata sepenuhnya.
“Eonni..” sapaku pada Park Bom Eonni yang duduk di samping ranjang. Oh, ternyata ini rumah sakit.
“Sebentar, aku panggil dokter.” Kulihat bayangan Eonni yang menghilang, kemudian masuk lagi dengan beberapa orang berpakaian putih.
“Dia sudah-tidak apa-apa, hanya kehabisan darah. Kami sedikit sulit mencari tempat untuk menginfusnya, di pergelangan tangan kanannya terdapat bekas luka.” Kata dokter itu kemudian pergi.
Park Bom Eonni melihatku penuh selidik kemudian duduk di sampingku. “Siapa yang melakukannya?” tanyanya.
“Tidak ada, hanya kecelakaan.” Kataku pelan.
“Taemin yang membawamu kemari, kemarin.” Kata Park Bom Eonni melupakan pertanyaan pertamanya
“Kemarin? Lalu sekarang dia ada dimana?” kataku menyadari bahwa aku sudah tidak sadarkan diri selama 1 hari.
“Entah. Setelah memastikan kau tidak apa-apa dia langsung pergi.” Kata Eonni Park Bom
“Aku akan membelikanmu makan terlebih dahulu.” Kata Eonni Park Bom mengenakan blazernya dan pergi.
Aku membuka ponselku dan kucoba menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif. Dimana dia?
***********************************
Aku mencintaimu bukan karena kau adalah dirimu,,
Tapi aku mencintaimu karena..
Kau selalu mencintaiku,,
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku terima kau dengan segala masa lalu dan masa depanmu...
Beserta seluruh bekas dan lukanya
Juga...
Semua kenangan dan traumaticnya..
Akan kuterima semuanya...
***********************************
Author POV
In Ri menatap nanar ke luar jendela kamarnya yang silau karena cahaya eclipse. Baru tadi pagi ia boleh pulang setelah tiga hari dirawat. Dia sudah baik-baik saja, hanya saja kejadian itu masih menyisakan 19 jahitan di paha kanannya. Juga kerinduan pada sosok yang membuat luka itu.
Lee Taemin, entah bagaimana menghilang begitu saja setelah kejadian itu, merasa bersalah. In Ri duduk di kursi depan jendelanya, mengira-ngira kemana namjachingunya pergi. Tempat apa yang mungkin dicari Taemin pada saat seperti ini. Kemudian pikirannya menangkap satu tempat.
“In Ri, makan malammu aku letakkan di atas meja.” Kata Eonni Park Bom sambil duduk diranjang, memandangi punggung adiknya,
“Eonni, kau mendapatkan kabar Taemin?” tanya In Ri tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.
“Kau yang sabar, dia pasti kembali.” Kata Park Bom sambil berdiri menepuk pundak In Ri dan pergi.
“Ya, dia pasti kembali. Itu memang yang ingin kupirkan, karena aku terlalu takut memikirkan kemungkinan lain.” Kata In Ri pelan pada dirinya sendiri.
In Ri berpikir sebentar, lalu berjalan terseret menuju ranjangnya dan meraih ponsel
“Yoboseo, Gae Shin.” Begitu mendengar nada sambungnya terputus. “Ne, In Ri!” Kata gadis disebrang. “Besok bisa mengantarku ke suatu tempat?”
************************************
In Ri POV
Pagi-pagi sekali aku berangkat bersama Gae Shin. Tidak ada yang tau sebenarnya aku akan pergi kemana. Setelah tiga jam duduk di samping Gae Shin yang sibuk mengemudi, aku memintanya menurunkanku didepan sebuah jalan setapak kecil.
Setelah 50 meter susah payah berjalan dengan 19 jahitan di paha, bisa terlihat sebuah villa dengan tembok bata yang luas. Aku lihat cerobong perapiannya mengeluarkan asap, tersenyum. ‘Benarkan dia ada disini!’ Aku tak perlu mengetuk pintunya, karena aku juga memiliki kunci villa ini. Aku segera melepaskan tasku dan berjalan menuju halaman belakang.
Terlihat seorang namja duduk di bangku kayu sambil memberi makan beberapa merpati yang hinggap disekitarnya. Aku membuka telapak tanganku yang menggenggam beberapa makanan burung. Membuat burung-burung disekitar namja itu terbang perlahan kearahku. Dia menoleh kearah burung-burung itu terbang dan memandangku. Sedangkan aku berlutut pura-pura tidak peduli dan tersenyum pada  beberapa burung yang hinggap di tanganku.
Aku menoleh padanya yang masih menatapku hingga pandangan kami bertemu. Aku letakkan makanan burung itu di tanah membuat burung-burung berebut lalu aku berjalan menghampirinya.
“Boleh aku duduk?” tanyaku namun Ia hanya diam dan menggeser tubuhnya sedikit.
“Kenapa kesini tidak mengajakku?” tanyaku lagi
“Kau sudah sembuh?” tanyanya tanpa memandangku
Aku tersenyum simpul kemudian menjawab “Ya, aku sudah sembuh sejak datang kemari dan melihatmu.”
“Luka itu belum sembuh.” Katanya sambil melihat perban di pahaku
“Bukankah kita sudah berjanji akan terus bersama?” tanyaku
“Kau terlalu baik untukku.” Katanya namun kali ini menatap mataku sekilas
“Tidak, kau yang terbaik.” Kataku sambil menyandarkan kepalaku dipundaknya sedangkan Ia hanya diam saja ketika aku memejamkan mata dipundaknya.
“Pundakmu nyaman” kataku pelan masih dengan mata terpejam
Aku mendengar ia tersenyum kecil dan menyenderkan kepalanya pelan di kepalaku.
“Aku mengantuk, bisa kau ceritakan dongeng untukku?” tanyaku
Ia diam sebentar lalu kemudian memulai lullaby-nya
“Aku mungkin mempunyai dua muka, dan aku mungkin mempunyai dua jiwa..
Tapi aku hanya mempunyai satu hati, yang hanya aku gunakan untuk satu tugas, yaitu,,
Mencintaimu...” katanya namun kemudian terdengar akan melanjutkan kalimatnya.
“Akan ku kendalikan dua wajahku dan memakaikannya dua topeng. Aku janji, aku akan berusaha.” Katanya mengakhiri lullaby konyolnya yang anehnya berhasil membuatku tersenyum penuh kebahagiaan.
“Aku tahu..”
“Aku tahu..
Karena akulah yang paling mengerti kau di dunia ini.”



********************************************************************************************
THE END
29/09/2011 - 16.21

Other Information

Ikuti Terus Blog ini ya...
Oiya,, bagi para pengikut,, Add FB aku juga ya.. di Indriyanti Agutina Putri dan my twitter @2096park