Halaman Yang Ada Di Blog-ku

Sabtu, 05 November 2011

Double Mask For Double Face -part3-


********************************************************
In Ri POV
“Aigoo!! perasaan kita baru saja masuk ajaran baru, kenapa sekarang sudah ujian akhir?!” Umpat So La sambil menjejalkan roti kemulutnya.
“Mana Na Dae, Gae Shin dan Yoo Seo?” tanya ku membuka bungkus permen dan memasukkannya dalam mulut.
“Mereka bolos hari ini. Katanya ingin menenangkan diri untuk ujian besok. Hari ini seluruh jam kosong kan?”
“Ha?” hanya itu yang ku katakan lalu kembali berkonstentrasi pada permenku.
“Apa yang kau siapkan untuk ujian akhir pelajaran seni?” tanya So La lagi.
“Emmm.. aku mau meminta Taemin Oppa untuk mengajari ku dance. Dan...” belum selesai kata-kataku terpotong oleh So La.
“Jinja?! Akkhhh,,, aku juga ingin bisa dance! Tolong bilang ke namjachingumu untuk mengajariku juga!! Ya?” katanya panjang.
Aku melihat mukanya yang memasang Puppy Eyes. Haishh!! Chinguku yang satu ini!
“Iya, nanti aku tanyakan. Kalau dia setuju, berarti kau mulai latihan minggu depan.” Kataku tidak tahan melihat air mukannya.
“Aaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!! Kau baik sekali, In Ri! Semoga tuhan selalu disisimu!!!!” katanya merentangkan tangan akan memelukku, sebelum seongsangmin masuk ke kelas.
Gawat Na Dae, Gae Shin dan Yoo Seo akan dapat masalah hari ini.
Tapi kenapa Taemin Oppa memintaku berlatih di  gedung olahraga ya? Padahal biasanya kami berlatih dirumahku. Eh? Sudah lah!
*********************************************************
Taemin POV
Dari pagi aku sudah ada di sini untuk mendekorasi gedung ini. Hari ini adalah perayaan 2 tahun hubunganku dengan In Ri. Jadi, aku ingin memberinya sedikit kejutan.
“Huwa!! Setengah jam lagi In Ri datang!” pekikku panik.
Tidak terlalu banyak yang kulakukan, hanya menggantungkan beberapa balon, dan menyiapkan makanan-makanan kesukaan In Ri di meja tepi kolam renang.
“Hahh!! Capek!” kataku bergumam sendiri.
Sepertinya aku tidak bisa membantumu. Appa memintaku membantunya dirumah. Mian, Taemin.
Ku tatap SMS dari Minho hyung, sambil menghempaskan pantatku dikursi. Lalu pikiranku kembali melayang.
Apa In Ri akan menyukai ini? Aku harap iya. Entahlah! Aku merasa kalau selama 2 tahun ini, aku tidak menjadi namjachingu yang baik untuknya. Aku kurang baik untuknya, atau bahkan terlalu buruk? Dia selalu membuatku bahagia tapi aku selalu membuatnya terluka. Dia memang sering menyakinkanku, namun keadaan bisa berubah kan? Bukannya aku tidak percaya padanya, tapi aku tidak percaya pada diriku...
“...Yang tiba-tiba saja bisa melukainya,,
Tanpa sadar..”
****************************************
Author POV
Seperti dugaan, 30 menit kemudian In Ri datang. Mengenakan celana pendek diatas lutut yang hampir tertutup oleh kaos ungu panjangnya.
“Oppa.. aku sudah datang.” Kata In Ri sambil memasuki gedung olahraga yang sepi. Dari studio dance ia berjalan di sepanjang koridor untuk mencari Taemin. Namun koridor-koridor itu kosong, kemudian ia mendengar seseorang berjalan di tepi kolam.
“Eh? Oppa ada disini? Kenapa pakai baju seperti itu?” tanya In Ri heran melihat namjachingunya mengenakan celana panjang hitam, dengan kemeja putih.
“Hhh... duduklah.” Kata Taemin berusaha menggendalikan dirinya, lehernya sudah dibasahi dengan keringat dingin, dan tangannya membentu posisi tinju menahan amarahnya.
“Wah, banyak sekali makanan disini.” Kata In Ri takjub kemudian duduk.
“Oppa tidak ikut duduk?” tanya In Ri lagi
“Sebentar.” Kata Taemin mengambil langkah sedikit menjauh.
“Oppa..??” In Ri bangkit dari kursinya, dan menghampiri Taemin. Menyentuh tangannya, kemudian baru merasa kalau sesuatu sedang terjadi dan segera melepaskannya.
“Wae?!” Taemin berbalik arah, membuatnya berhadapan dengan In Ri.
Taemin semakin mempercepat langkahnya sedangkan In Ri terus berjalan mundur kemudian berlari menuju tempat dance. ‘Bodoh!’ itu umpatnya dalam hati pada dirinya sendiri. Kini ia malah terhimpit ruangan yang dikelilingi kaca. Ia berusaha keluar namun terlambat, Taemin sudah ada didepan pintu, membawa sebuah pisau. Penampilannya berantakan sekarang, kemejanya keluar tidak karuan dan rambutnya acak-acakan. Matanya berkilat dan menyunggingkan senyum mengerikan.
“Haii..” katanya mendekati In Ri yang berjalan menjauh.
Taemin menggoreskan pisau ke salah satu kaca, menimbulkan suaran decitan yang menyayat.
“Kemarilah! Katanya kau tidak mau menjauhi ku?!” tanya Taemin menyeringai.
“Hajhima, Oppa. Hajhima!” kata In Ri mulai menangis melihat namjachingunya.
In Ri memikirkan sesuatu sebentar dan mendekat pada Taemin, menepuk pundaknya kemudian memeluknya. “Oppa, sadarlah!” kata In Ri tepat ditelinga Taemin.
Terdengar suara nafas Taemin yang tidak karuan, kemudian melemah membuat In Ri sedikit lega.
Namun tiba-tiba Taemin meletakkan tangannya dileher In Ri dan menekan kepalanya agar bibirnya dan dapat menggapai bibir In Ri. Ia menggigit bibir bawah dan atas In Ri bergantian kemudia mengulumnya. Menekan tengkuk In Ri agar lidahnya bisa masuk ke rongga mulut In Ri.
In Ri menerima begitu saja perlakuan namjachingunya, namun ia menangis tertahan sambil berusaha mempercayai kalau..
Namjachingunya sedang berusaha keluar sekarang...”
---------------------------------------
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAarrrrgghhhhhhhhh!!!” jerit In Ri ketika merasakan sebuah pisau menancap di paha kanannya.
Taemin melepaskan ciumannya dan mendorong In Ri sehingga tubuhnya membentur kaca. Darah In Ri keluar deras begitu saja, membuat kaca-kaca disekelilingnya bernoda darah. Taemin mendekati In Ri dan kembali menancapkan pisaunya ditempat yang sama, lalu menggerakkannya membuat luka melebar berkali-kali.
In Ri mendorong Taemin menjauhinya, kemudian berjalan terseok-seok keluar dari ruang dance sambil memegang lukanya. Sampai ditepi kolam, Taemin berhasil mengejarnya kemudian menghunuskan pisau kedepan lehernya. Membuat In Ri berjalan mundur, kemudian jatuh ke kolam renang.
Seketika, darah In Ri berpendar, tercampur dengan air kolam yang sedikit demi sediki berubah menjadi merah. Taemin ikut menceburkan diri, masih terus berusaha melukai In Ri. In Ri berusaha keluar dari kolam namun Taemin menarik pergelangan kaki kirinya hingga ia kembali masuk kedalam air.
Taemin mendorong tubuh In Ri dan menahannya di dasar kolam. In Ri yang memang sudah tidak bisa bernafas berusaha untuk naik, namun Taemin mencekiknya hingga ia terus berada dalam air.
1 menit,,
2 menit,,
5 menit,,
In Ri didalam air bersama dengan semua lukanya.
*************************************
In Ri POV
Semuanya Gelap..
Entah, aku tidak sadar selama berapa lama..
Ruangan ini lembab, dan penuh bau yang menyengat.
Kucoba gerakkan tubuhku, namun semuanya terasa sakit, terutama kaki kananku, terasa perih dan ngilu. Aku coba membuka mataku perlahan, namun yang terlihat adalah cahaya putih menyala besar yang berada tepat di depan mataku.
“In Ri, Ireonayo?” suara seorang wanita membuatku membuka mata sepenuhnya.
“Eonni..” sapaku pada Park Bom Eonni yang duduk di samping ranjang. Oh, ternyata ini rumah sakit.
“Sebentar, aku panggil dokter.” Kulihat bayangan Eonni yang menghilang, kemudian masuk lagi dengan beberapa orang berpakaian putih.
“Dia sudah-tidak apa-apa, hanya kehabisan darah. Kami sedikit sulit mencari tempat untuk menginfusnya, di pergelangan tangan kanannya terdapat bekas luka.” Kata dokter itu kemudian pergi.
Park Bom Eonni melihatku penuh selidik kemudian duduk di sampingku. “Siapa yang melakukannya?” tanyanya.
“Tidak ada, hanya kecelakaan.” Kataku pelan.
“Taemin yang membawamu kemari, kemarin.” Kata Park Bom Eonni melupakan pertanyaan pertamanya
“Kemarin? Lalu sekarang dia ada dimana?” kataku menyadari bahwa aku sudah tidak sadarkan diri selama 1 hari.
“Entah. Setelah memastikan kau tidak apa-apa dia langsung pergi.” Kata Eonni Park Bom
“Aku akan membelikanmu makan terlebih dahulu.” Kata Eonni Park Bom mengenakan blazernya dan pergi.
Aku membuka ponselku dan kucoba menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif. Dimana dia?
***********************************
Aku mencintaimu bukan karena kau adalah dirimu,,
Tapi aku mencintaimu karena..
Kau selalu mencintaiku,,
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku terima kau dengan segala masa lalu dan masa depanmu...
Beserta seluruh bekas dan lukanya
Juga...
Semua kenangan dan traumaticnya..
Akan kuterima semuanya...
***********************************
Author POV
In Ri menatap nanar ke luar jendela kamarnya yang silau karena cahaya eclipse. Baru tadi pagi ia boleh pulang setelah tiga hari dirawat. Dia sudah baik-baik saja, hanya saja kejadian itu masih menyisakan 19 jahitan di paha kanannya. Juga kerinduan pada sosok yang membuat luka itu.
Lee Taemin, entah bagaimana menghilang begitu saja setelah kejadian itu, merasa bersalah. In Ri duduk di kursi depan jendelanya, mengira-ngira kemana namjachingunya pergi. Tempat apa yang mungkin dicari Taemin pada saat seperti ini. Kemudian pikirannya menangkap satu tempat.
“In Ri, makan malammu aku letakkan di atas meja.” Kata Eonni Park Bom sambil duduk diranjang, memandangi punggung adiknya,
“Eonni, kau mendapatkan kabar Taemin?” tanya In Ri tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.
“Kau yang sabar, dia pasti kembali.” Kata Park Bom sambil berdiri menepuk pundak In Ri dan pergi.
“Ya, dia pasti kembali. Itu memang yang ingin kupirkan, karena aku terlalu takut memikirkan kemungkinan lain.” Kata In Ri pelan pada dirinya sendiri.
In Ri berpikir sebentar, lalu berjalan terseret menuju ranjangnya dan meraih ponsel
“Yoboseo, Gae Shin.” Begitu mendengar nada sambungnya terputus. “Ne, In Ri!” Kata gadis disebrang. “Besok bisa mengantarku ke suatu tempat?”
************************************
In Ri POV
Pagi-pagi sekali aku berangkat bersama Gae Shin. Tidak ada yang tau sebenarnya aku akan pergi kemana. Setelah tiga jam duduk di samping Gae Shin yang sibuk mengemudi, aku memintanya menurunkanku didepan sebuah jalan setapak kecil.
Setelah 50 meter susah payah berjalan dengan 19 jahitan di paha, bisa terlihat sebuah villa dengan tembok bata yang luas. Aku lihat cerobong perapiannya mengeluarkan asap, tersenyum. ‘Benarkan dia ada disini!’ Aku tak perlu mengetuk pintunya, karena aku juga memiliki kunci villa ini. Aku segera melepaskan tasku dan berjalan menuju halaman belakang.
Terlihat seorang namja duduk di bangku kayu sambil memberi makan beberapa merpati yang hinggap disekitarnya. Aku membuka telapak tanganku yang menggenggam beberapa makanan burung. Membuat burung-burung disekitar namja itu terbang perlahan kearahku. Dia menoleh kearah burung-burung itu terbang dan memandangku. Sedangkan aku berlutut pura-pura tidak peduli dan tersenyum pada  beberapa burung yang hinggap di tanganku.
Aku menoleh padanya yang masih menatapku hingga pandangan kami bertemu. Aku letakkan makanan burung itu di tanah membuat burung-burung berebut lalu aku berjalan menghampirinya.
“Boleh aku duduk?” tanyaku namun Ia hanya diam dan menggeser tubuhnya sedikit.
“Kenapa kesini tidak mengajakku?” tanyaku lagi
“Kau sudah sembuh?” tanyanya tanpa memandangku
Aku tersenyum simpul kemudian menjawab “Ya, aku sudah sembuh sejak datang kemari dan melihatmu.”
“Luka itu belum sembuh.” Katanya sambil melihat perban di pahaku
“Bukankah kita sudah berjanji akan terus bersama?” tanyaku
“Kau terlalu baik untukku.” Katanya namun kali ini menatap mataku sekilas
“Tidak, kau yang terbaik.” Kataku sambil menyandarkan kepalaku dipundaknya sedangkan Ia hanya diam saja ketika aku memejamkan mata dipundaknya.
“Pundakmu nyaman” kataku pelan masih dengan mata terpejam
Aku mendengar ia tersenyum kecil dan menyenderkan kepalanya pelan di kepalaku.
“Aku mengantuk, bisa kau ceritakan dongeng untukku?” tanyaku
Ia diam sebentar lalu kemudian memulai lullaby-nya
“Aku mungkin mempunyai dua muka, dan aku mungkin mempunyai dua jiwa..
Tapi aku hanya mempunyai satu hati, yang hanya aku gunakan untuk satu tugas, yaitu,,
Mencintaimu...” katanya namun kemudian terdengar akan melanjutkan kalimatnya.
“Akan ku kendalikan dua wajahku dan memakaikannya dua topeng. Aku janji, aku akan berusaha.” Katanya mengakhiri lullaby konyolnya yang anehnya berhasil membuatku tersenyum penuh kebahagiaan.
“Aku tahu..”
“Aku tahu..
Karena akulah yang paling mengerti kau di dunia ini.”



********************************************************************************************
THE END
29/09/2011 - 16.21

Double Mask For Double Face -part2-


Author POV
“Kau ada jadwal les hari ini?” tanya Taemin di tengah perjalanan menuju ke sekolah In Ri.
“Ani..” kata In Ri membetulkan posisi duduknya
“Mmm.. bisa kau temani aku ke tempat Park Min Suk Noona?” tanya Taemin lagi kali sambil melihat wajah In Ri dari kaca spion.
“Tentu.” Kata In Ri sambil menopangkan dagunya di pundak Taemin.
Setelah mengajukan beberapa pertanyaan yang sedikit ‘aneh’, dan berbincang-bincang sebentar dengar Min Suk Noona, mereka pun keluar dari kerja Park Min Suk noona. Ya, Min Suk Noona adalah seorang Psikiater yang sejak 4 tahun lalu menjadi ahli terapi Taemin.
“Yang penting kau harus terus berusaha.” Kata Min Suk noona.
“Baiklah, kami pergi dulu.” Kata In Ri ramah.
“Jakka, In Ri noona, kau juga harus mendukungnya ya?” kata Min Suk Noona, sambil mengarahkan pandangannya pada Taemin.
“Tentu saja, Eonni.” Kata In Ri sambil merangkul lengan Taemin.
Bisa dibilang Lee Taemin adalah seorang pengidap Kepribadian Ganda atau Alter Ego, tapi ia memiliki sedikit ‘perbedaan’. Tidak seperti yang lain, ia menyadari penyakitnya, ia hanya kehilangan kendali saat pribadi keduannya muncul. Dan yang terpenting, dia punya In Ri yang selalu mendukungnya.
Tentu saja, In Ri tau apa yang terjadi pada namjachingunya. Sebelum mereka dekat bahkan Taemin sudah mengatakannya. Pertama kali, In Ri merasa terkejut dan mengambil jarak. Namun akhirnya In Ri memutuskan untuk bersama Taemin.
..mendukung..
Dan memutuskan bersama..
--------------------
 “Sepertinya pencernaanku sedikit tidak beres.” Kata Gae Shin begitu keluar dari bilik toilet.
“Salah siapa tidak suka sayur!” kata In Ri yang sedang menghadap kaca wastefel toilet wanita di sekolah mereka.
“Sepertinya aku sudah akan melepas ini.” Kata In Ri sambil memegang plester yang sejak seminggu lalu menutup bekas luka dipipi kirinya.
“Sebenarnya kenapa kau menggunakan plester itu? Memangnya ada luka?” tanya Gae Shin sambil mencuci tangannya.
“Tidak. Hanya bekas jerawat.” Kata In Ri berbohong. In Ri tidak mungkin menceritakan kalau ini perbuatan Taemin, entah apa yang akan terjadi.
Tentang keadaan Taemin, memang hanya In Ri dan Umma Taemin yang tau. Umma nya bahkan harus mengajak Appa Taemin dan Taesuk pindah ke Amerika hanya agar mereka tidak tau tentang penyakit Taemin ini.
In Ri sedikit lega setelah melepas plester di pipi kirinya karena luka itu tidak menimbulkan bekas.
*********************
In Ri POV
Yeoboseo? Taemin Oppa, ne. Jakkaman.
Kataku random saat menjawab telfon dari Taemin Oppa. Ia memintaku datang kesebuah tempat sekarang, aku yang baru pulang sekolah langsung menuju tempat yang dimaksud.
Setelah berjalan masuk ke beberapa gang, aku melihat sebuah taman dengan berbagai permainan anak kecil. Aku melihat seorang namja duduk di salah satu kuda di komedi putar. Itu dia!
“Chagiya!! Ayo kemari!!” katanya mengayunkan tangannya padaku.
Aku tersenyum dan segera menghampirinya. Saat aku naik, komedi putar itu berputar perlahan. Membuatku sedikit kehilangan keseimbangan.
“Oppa” Kataku duduk di kuda sebelah kudanya.
“Kau suka tempat ini?” katanya.
“He’emph... seperti harta karun, sedikit sulit menemukannya, tapi begitu terlihat akan sangat berharga.” Kataku sambil menyapu pandangku pada tempat ini.
Taemin tiba-tiba turun dari kuda-kudaannya dan berlutut di hadapanku. Menengadahkan telapak tangangnya dan berkata.. “Tuan Putri, maukah anda berdansa denganku? Hemp?” tanyanya.
Aku belum bisa menjawab karena terharu atas perlakuannya.
“Oppa..” hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulutku.
Ia langsung memegang tanganku dan mencium punggung tanganku. Tangannya terasa dingin dan berkeringat. Kemudian dia memutar tanganku hingga membuatnya hampir terkilir, sejak saat itu aku mulai merasa kalau ada sesuatu. Ia mulai mencium nadiku dan menghisapnya.
“Oppa..” kataku sedikit lebih tinggi untuk menyadarkannya.
Aku rasa ia mulai menggigit nadiku hingga menyobek kulitnya. Aku hanya menahan gigitannya yang semakin kuat. Membuat rasa sakit akibat darah yang mengucur begitu saja. Aku tidak mencoba menghindari perlakuannya, selama dia tidak menghisap darahku, akan ku tahan. Ia terus menggigitku hingga luka yang dibuatnya semakin lebar.
Lalu aku rasakan gigitannya melemas dan dia terkulai. Segera aku jatuhkan sapu tanganku pada lantai agar menutupi semua darahku yang tercecer. Lalu kuturunkan lengan bajuku yang memang panjang.
“..akan kutahan agar menutupi semua..”
***********************************************
Taemin POV
“Oppa sedang apa? Katanya mau berdansa?” tanya In Ri menyadarkanku.
Entahlah, sepertinya aku baru saja melamunkan sesuatu yang entah apa. Aku melihat wajahnya dan kulihat senyumnya. Kemudian ku ulurkan tanganku lagi, namun kali ini dia langsung meraihnya.
Kamipun berdansa diatas komedi putar yang terus berputar. Ia merangkulkan tangannya dileherku sedangkan aku memegang pinggangnya. Namun secara tiba-tiba aku alihkan tanganku ke pundaknya. Menghentikan gerakan dansa kami, dan mendesaknya untuk duduk dikursi.
Aku duduk disampingnya namun dengan cepat memutar punggungku menutupi tubuhnya. Kuarahkan wajahku ke leher kanannya, sambil menggeser kerah kemeja putihnya. Aku merasa dia pasti bisa mendengar hembusan nafasku yang berada di bawah telinganya. Aku juga merasakan, ia mati-matian menutup mata dan menekan kedua sisi giginya.
Aku kembalikan lagi kesadaranku dan menyeimbangkan nafasku, membuatnya sedikit meregangkan otot lehernya.
“Oppa..” katanya dengan nada yang dalam pikiranku terdengar lega.
“Ani..” kataku sambil kembali pada posisiku, disamping kirinya.
“Aku tidak mau menyakitimu..” kataku sambil menutup muka dengan telapak tanganku sebentar dan membukanya.
“Tak apa..” katanya sambil menaruh ranselnya ditanah dan merebahkan diri dipangkuanku.
“In Ri..” kataku.
“Hemp?” jawabnya.
“Ani.. hanya ingin memanggilmu saja.” kataku sambil menyingkap poninya.
“Oppa..” katanya.
“Hemp?” balasku menjiplak kalimatnya tadi.
“Aku suka semua kebahagiaan yang kau berikan, juga..
semua rasa sakit yang kau berikan...”



 *TBC*
Otte?otte?? bagus!! akh, jadi malu.. GeJee.. sudah lah, saya lanjutkan postnya saja dulu,,

Double Mask For Double Face -part1-

DOUBLE MASK FOR DOUBLE FACE
————————————————————-
Author: Park In Ri
Casting: Park In Ri, Lee Taemin (Best couple of the world!!!!!) *plak! Dilempar ke kutub selatan sama TAEMINTS.
Genre: Romance, sedikit sadis dan… (dan apa ya?!)
Rating: PG-16 (nah loh? Nggak jadi NC nih?/me: nggak, saya terlalu polos!) qiqiqi…..
Note:
%dari pada bingung mau ikut seleksi OSN apa gag, mending nge-post FF..%
Misi-misi-misi *tebar kelopak bunya bangkai* mau share FF nich. Ini FF ketiga yang saya tulis, namun selesai lebih dulu dari FF kedua, dan ini adalah FF saran dari Eonni-eonni SMP yang gg percaya saya bisa buat kaya ‘beginian’. emm.. mohon kritik saran yang membangun, agar saya dapat memperbaiki diri.. *plak!* ngomong apa sih!? Salting nih sama readers,,
Oke dah, langsung aja..
Cekidot,,
Happy reading!!!

DOUBLE MASK FOR DOUBLE FACE
Aku mencintaimu,,
Bahkan ketika kau berada dalam titik terendah mu…
Aku mencintaimu,,
Bahkan ketika kau bukan dirimu
**************************
Taemin POV
Pagi ini aku berada di apartement yeojachinguku. Hanya ada kami berdua disini, karena Park Bom Noona sedang keluar dan memintaku menjaga yeodongsaeng-nya. Hehehe.. apa dia tidak takut kalau aku apa-apakan adiknya?
“Aish, yeoja ini! Jam segini belum bangun juga?” kataku menggerutu sendiri sambil membuka kamarnya.
“Ya!! Ireona..” kataku sambil menarik selimut yang menutupi sekujur tubuhnya
“Hhhhhh… emhauauha..” katanya begumam tak jelas.
“Aish, ppaliyo!!” kataku menarik lengannya hingga membuatnya terduduk
“Hemm?” katanya membuka mata perlahan dan melihat ke sekeliling dengan pandangan ada-dimana-aku? “Oppa?” ahh.. akhirnya dia menyadari keberadaanku.
“Kenapa Oppa ada disini? Mana Park Bom Eonni?” sambil mengucek-ucek matanya
“Dia sedang keluar.” Kataku memperhatikannya.
“Owh.. kalau begitu biarkan aku tidur lagi.” Katanya sambil membenarkan posisinya agar bisa tidur lagi.
Aku hanya diam melihatnya yang tidur sambil terduduk. Dia tampak lucu jika bangun tidur, banyak yang bilang kalau kecantikan yeoja yang sesungguhnya itu terlihat ketika dia baru bangun tidur. Tapi kenapa dia tidak terlihat cantik, dia terlihat lucu, bukan cantik.
Aku sibakkan poni yang hampir menutupi matanya. Mataku kini memperhatikan setiap detail wajahnya. Keningnya, alisnya, matanya, pipinya, hidungnya, dan bibirnya.
Kudekatkan wajahku kewajahnya yang tertunduk karena sedang tertidur. Kuangkat sedikit dagunya agar sejajar dengan wajahku. Semakin kudekatkan wajahku, hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Kudekatkan lagi wajahku, hingga tidak ada jarak diantara bibir kami berdua, ku tekan perlahan bibirku pada bibirnya. Hingga membuatnya membuka mata dan bergumam tidak jelas.
****************************************************************************
In Ri POV
“Mm!! Apma yam Ommpa lakkan?” kataku sambil terus menutup mutup. Tidak ku berikan kesempatan padanya untuk melakukan lebih. Bukan karena tidak suka, tapi aku tau dia pasti belum sikat gigi.
“Ada apa? Sudah bangun sekarang?” tanyanya sambil melepaskaskan tekanan bibirnya.
“Kau! Memanfaatkan kesempatan ya, Oppa?” kataku sambil sedikit mengambil jarak.
“Hey! Kenapa menjauh?” tanyanya.
“Oppa pasti belum mandikan? Bau!!!” kataku menunjukkan merong manjaku padanya.
“Itukan kau yang belum mandi?! Aku sudah!” katanya sambil mengendus-endus bau sekitarku.
Aku beranjak dari tempat tidurku dan merapikannya sedikit. Duduk di tepi ranjang bersebelahan dengan Namjachinguku. Ia membasahai bibirnya sedikit, lalu kemudian berfikir
“In-ah, kau pakai lipsgloss rasa lemon ya?” tanyanya.
Eh, kenapa coba dia bertanya hal seperti itu. “Eung. Wae?” tanyaku balik.
“Aku sudah bilang kan, aku tidak suka rasa lipgloss lemon mu itu. Bukankah sudah kusarankan memakai yang rasa berry?” tanyanya sambil menggosok-gosok bibirnya dengan telapak tangan.
“Ya! Terserahku..apa urusan Oppa?” balasku.
“Sekarang, aku mau mandi. Ada dua pilihan untuk Oppa. Pergi atau buatkan aku sarapan, tapi sepertinya Oppa tidak akan mau pergi dari sini. Jadi segera buatkan sarapan untukku..” kataku panjang lebar sambil berdiri berkacak pinggang didepannya yang masih duduk ditepi ranjang.
“Siapa bilang aku tidak mau? Ini aku baru mau pergi.” Katanya
“Andwe!! Dirumah ini berlaku peraturan sesudah masuk tidak dapat keluar sebelum mendapat ijin. Jadi sekarang, buatkan saja aku sandwich atau apalah.” Kataku sambil mendorongnya paksa menuju dapur.
Lalu dengan langkah enteng aku berjalan menuju kamar mandi.
*********************************************************************
Author POV
Setelah 20 menit berada dalam kamar mandi, In Ri keluar dan menghampiri namja chingunya yang sedang membuatkannya sarapan. Lalu memeluknya dari belakang.
“Sedang buat apa?” tanya nya.
“Menjauh.” Katanya dengan nada dingin yang dikira In RI itu adalah salah satu candaannya.
“Aku sudah mandi sekarang. Jadi tidak bau lagi.” Kata In Ri tanpa menghilangkan nada manjanya.
“Ku bilang menjauh yang menjauh!” Taemin menghentakkan tangannya dan langsung membuat In Ri melepaskan pelukannya.
Taemin berbalik arah, menatap In Ri dengan tatapan menakutkan dan mata berkilat. In Ri yang mulai sadar dengan apa yang terjadi pada namjachingunya berjalan mundur menjauh.
“Kenapa lama sekali?” tanya Taemin menyeringai. Terus melangkah, menyudutkan In Ri yang sudah terhimpit tembok.
“Oppa, sadarlah! Oppa,, kendalikan dirimu.” Kata In Ri mulai panik
“Aku tanya kenapa lama sekali?!” kata Taemin melengkingkan nada bicaranya. Bahkan sekarang ia sedang mengeluarkan benda tajam dari tangan kirinya. Pisau dapur yang sejak tadi ia sembunyikan dibalik punggungnya.
Taemin mengangkat leher In Ri hingga 15 cm, membuat tinggi mereka sama.
“Oppaa.. sadarlah!” kata In Ri mulai terisak melihat namjachingunya berubah menjadi menakutkan.
Taemin tak menghiraukan perkataan In Ri. Ia sedang kehilangan kendali sekarang, ia tekan leher In Ri ketembok hingga tercekik. Lalu menempelkan pisau dapur di pipi kiri In Ri.
“Kau sudah cantik. Tak perlu terlalu lama dikamar mandi..” kata Taemin yang bahkan dia tidak tau apa yang sedang dikatakannya.
Ujung pisau yang tajam sudah mengenai pipi In Ri, mengelupas sedikit kulit luarnya. Sedangkan In Ri hanya bisa menahan sakitnya tercekik. Bahkan sekarang ia tidak bisa merasakan oksigen lagi. Dengan sisa tenaganya, ia dorong tubuh namjachingunya yang kini telah berubah menjadi monster itu menjauh. Hingga membentur lemari-lemari dapur bagian bawah.
*********************************************************************
Taemin POV
Semuanya gelap. Gelap. Hingga, entah berapa saat. Aku tidak tau apa yang aku katakan dan aku lakukan. Lalu aku merasa aku telah menabrak sebuah benda keras, hingga membuatku kembali mendapatkan kendali.
Aku pandangi sekeliling, aku masih berada di dapur In Ri. Kulihat In RI yang kesakitan memegangi pipi kirinya, sambil mengatur nafasnya yang tak karuan. Lalu kulihat tanganku yang memegang pisau dapur.
Apakah aku melakukannya lagi? Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tiba-tiba seperti tersedot kedalam perut bumi dan ketika aku muncul sudah jadi seperti ini.
Kulihat tanganku yang masih memegang pisang dapur itu, lalu kubuang jauh-jauh benda sialan itu.
“Oppa..” katanya merintih pelan diiringi dengan airmatanya.
“Mi, mi…anhae.. mianhae…” kataku sambil menangis terisak.
Aku melukainya lagi, apa yang aku lakukan. Aku sudah gila!
“Oppa tidak apa-apa?” tanyanya berusaha merangkak mendekatiku yang masih bersandar di lemari dapur.
“Menjauh…” kataku mengambil jarak darinya. Aku tidak mau menyakitinya
“Oppaa…” katanya menyentuh pelan pundakku
“Kenapa kau tidak mau menjauh? Apa kau tidak takut pada monster sepertiku? Hah?! Aku ini monster yang bahkan bisa membunuhmu.” Kataku semakin menjauh, tapi In RI terus mempercepat langkahnya.
“Tidak ada monster yang akan membunuh orang yang dicintai..” katanya masih dengan airmata yang bercucuran.
Ia berhasil mendekatiku, memelukku perlahan. Berusaha memberiku kekuatan.
“Aku bisa melakukan yang lebih berbahaya lagi, suatu saat pasti akan terjadi yang lebih buruk lagi.” Kataku menangis dipundakknya.
“Aku tidak peduli,,”
“Mungkin saat kita berada dalam mobil, tiba-tiba aku membanting setir dan membuatmu mati bersamaku.”
“Aku tidak peduli..”
“Mungkin suatu saat, jika kita berciuman aku akan berusaha menelanmu.”
“Aku tidak peduli..”
“Mungkin..” kataku berusaha membuat kemungkinan yang akan membuatnya takut dan menjauh
“Cukup” katanya memotong kalimatku “Jangan bermain dengan kemungkinan.” Katanya sambil melingkarkan tangannya pada leherku.
Aku mendekatkan wajahku dan menyambar bibirnya, mencoba menggigit bibir atas dan bawahnya secara bergantian. Aku berusaha membuat diriku hilang kendali lagi. Akan ku buat dia benar-benar takut padaku.
“Apa kau tidak takut padaku?
Aku ini monster yang bisa membunuhmu…”
***************************************************************
In Ri POV
Aku merasakan dia menggingit bibirku terlalu keras. Aku tau maksudnya, ini adalah allybi-nya agar membuat aku takut dan menjauh. Tidak akan. Aku berusaha melumat bibirnya yang menggigit bibirku. Tapi tidak bisa, ia mulai masuk ke rongga mulutku dan memainkan lidahku, menggigitku terlalu keras. Ia seperti benar-benar ingin menelanku sekarang.
“Oppa, cukup!” kataku mulai kesakitan karena kissmarknya
Ia akhirnya melepaskanku. “See? Aku bisa melakukan yang 100kali lebih menyakitkan ketika aku hilang kendali lagi.”
Aku berpikir sejenak. Aku harus memikirkan jawaban yang akan membuatnya percaya padaku.
“Bukankah itu resiko mencintai seorang monster?” kataku sambil tersenyum, meski bibirku masih terasa sakit karenanya.
“In Ri! Kenapa kau tidak menjauhi saja?! Hentikan semua ini!!”
“Tidak mau. Aku akan tetap bersamamu. Akan ku buat kau sembuh.” Kataku menyunggingkan senyum yang lebih lebar.
“Tidak boleh begitu. Aku tidak pantas untukmu.” Katanya lagi
“Siapa bilang tidak boleh? Aku akan tetap disini. Titik!” kataku meyakinkannya lagi.
Ia melihat mataku sebentar lalu tersenyum. “Kita akan terus bersama.” kataku kemudian menyodorkan kelingkingku, “Yaksso?” tanyaku yang disambut dengan kelingkingnya yang dikaitkan dikelingkingku. Ia tersenyum lagi, seperti saat aku bangun tidur tadi. Atau mungkin harus kusebut, sebelum berubah menjadi monster.
“Kalau begitu, ayo kita bereskan semua ini dan aku akan mengantarmu ke sekolah.” Katanya berdiri dan melihat dapur yang berantakan dibuatnya.
“Sirheo! Oppa yang melakukannya. Aku tidak mau.” Kataku sambil menunjukkan merong jahilku, lalu melangkah menuju kamar.
..Aku memang mencitai seorang monster,,
Dan akan aku ambil resikonya..


***TBC***

Minggu, 24 Juli 2011

Hallo!!!

Hallo,,
annyeong semua!! *sambil ddadaa-ddadaa kesegala arah.
ma'af-ma'af sudah sangat amat lama saya gg posting blog, itu dikarenakan saya lagi sibuk buat persiapan pesta pernikahan saya ma Taemin Oppa! #plak!! digeplak sama Taemints se kampung.
ANNOUNCEMENT!!! saya mau bilang: sekarang, aku udah SMA loh!!! SMA 1 BOJONEGORO!!! *Jjiah, telat kalo bilang... udah 1 bulan juga..
selain sibuk sama pelajaran, sekarang saya juga lagi 'ngeden' buat nyelesai'in FanFiction saya... udah 48 halaman tapi gg kelar-kelar..

keadaan saya, masih sama kayak bberapa puluh abad yang lalu,, ^m^
masih tergila-gila (tergendeng-gendeng) sama Lee Tae Min, nae namja yang baru aja ultah ke 18!!
makin bundar tekat sya buat ke korea..
AAA!!!! kangen,,
jangan diomongin deh, jadi makin kangen entar!!

eh, iya... aku ikut ekskul KIR lho!! cinta banget saya sama ekskul itu..
berharap bisa makin pinter nulis,, bukan cuma nulis KIR tp juga nulis, Novel, FanFiction, Puisi, Cerpen, Artikel, dll, dkk, dsb, dst...
saya bertekat untuk bisa mengukir prestasi dari KIR, Harus bisa...
HWAITING!!!

eh, ngomong-ngomong saya udah dipanggil-panggil ma Taemin buat pemotretan Pre-wedding kita nih..
sesion-nya dikuburan... do'ain aja ya, moga lancar!! qiqiqiqi... #diacungin golok ma Taemint se-jagad.
oke deh,, sebelum saya bener-bener dibunuh, saya pamit dulu..'
Anneyong,,,
Ddadaa!!!

Other Information

Ikuti Terus Blog ini ya...
Oiya,, bagi para pengikut,, Add FB aku juga ya.. di Indriyanti Agutina Putri dan my twitter @2096park